Surat Terbuka Untuk Ketum PSI Grace Natalie

0
201
PSI Kritik Keras Partai Nasionalis, Termasuk Koalisi Jokowi Ketum PSI Grace Natalie (Foto: Istmewa)

Oleh: Birgaldo Sinaga

Jambipos-Apakabar Sis Grace?  Semoga baik-baik saja ya. Terakhir kita bertemu dan berjabat tangan saat sama-sama diundang Persatuan Gereja-gereja dan Lembaga Injili Indonesia di MCA Slipi sekitar dua minggu lalu.

Sis Grace,  hari ini beranda WA saya dipenuhi dengan pidato politik anda. Jauh sebelumnya pidato politik anda   sudah sering saya terima.  Pidato soal penolakan Perda Syariah. Pidato rencana partai anda akan berjuang mencabut SKB 3 Menteri tentang pendirian rumah ibadah.  Juga soal penentangan Sis Grace tentang poligami.

Pikiran anda atas isu-isu politik sah-sah saja dalam langkah taktis strategis politik partai anda.   Itu urusan rumah tangga partai anda sendiri.

Wacana yang dilemparkan Sis Grace sebagai ketum partai tentu untuk memberikan tawaran akan harapan baru di kalangan pemilih. Itu lumrah dalam politik.  Dalam kontestasi politik tentu setiap partai menawarkan isu-isu strategis yang diharapkan mendapat simpati dan dukungan publik.

Sebagai partai baru,  Sis Grace sebagai nakhoda kapal sedang berjuang sekuat-kuatnya agar banyak penumpang yang masuk kapal PSI. Sis  Grace berusaha menawarkan isu-isu yang mungkin bisa membuat penumpang tertarik naik ke dek kapal anda.

Birgaldo Sinaga

Sampai di sini saya tidak keberatan dengan langkah anda   Dalam istilah anak Medan,  kau bikinlah bikinmu,  yang penting jangan kau campuri urusanku.

Saya terpaksa menulis surat ini karena secara tidak langsung anda sudah masuk ke dalam dapur rumah tangga partai lain yang notabenenya sedang sama-sama berkompetisi merebut kepercayaan rakyat.

Baca: Caleg PSI Ir Tigor Sinaga Respon Surat Terbuka Birgaldo Sinaga

Ibarat sesama peserta kontestasi Miss Universe yang sedang berada di panggung,  anda sudah teriak-teriak ke penonton bahwa diri anda sendirilah yang paling layak dapat tepuk tangan penonton karena hanya anda yang bening bersih,  cerdas, cantik,  berkaraktet kuat.  Sedangkan peserta  lain buruk, jelek,  pemalas.

Anda sebagai peserta yang sedang berkompetisi dengan peserta lain jelas tidak sportif.  Untuk mendapat poin dari penonton yang akan menjadi juri,  anda dengan jumawa begitu arogan menyombongkan diri. Klaim bahwa hanya partai anda yang telah melakukan banyak hal. Sedangkan partai nasionalis lain tutup mata. Tidak melakukan apa-apa.

“Kemana kalian ketika rumah Ibu Meliana dibakar pada saat anak-anaknya ada di dalamnya? Apa yang kalian lakukan ketika Meliana justru divonis bersalah dua tahun penjara? Kenapa cuma PSI yang mengirim kader menemui Ibu Meliana? Kenapa hanya Sekjen PSI Raja Juli Antoni — yang menjenguk Ibu Meliana di penjara, pada 5 Februari lalu! Hanya saya, Ketua Umum partai yang datang menjenguk Ibu Meliana pagi ini.”, ujar Grace berapi-api.

Sebagai kader Partai NasDem tentu pidato anda ini melukai perasaan saya. Tentu tidak elok ketika melakukan hal baik pada orang,   kita teriak mengapa orang lain tidak melakukan hal yang sama seperti yang anda lakukan?  Mengapa  anda harus menuntut partai lain melakukan hal yang sama seperti yang anda inginkan?

Saya enggan untuk menyampaikan hal ini sebenarnya.  Tapi bolehlah saya sedikit mengabarkan ke Sis Grace. Jauh sebelum PSI turun menemui Ibu Meiliana saya sudah melakukan pembelaan kepada Bu Meiliana.  Sebelum diputuskan pengadilan,  saya sudah menulis tentangnya. Saya sudah membelanya.

Usai divonis,  saya menggalang dana untuk memastikan dua anak Bu Meiliana Nita dan Ferry bisa tetap kuliah.  Dari penggalangan dana dari teman-teman follower saya diperoleh dua ratusan juta lebih.  Cukuplah untuk beasiswa Nita dan Ferry sampai tamat kuliah.

Saya melaporkan kerja kemanusiaan ini kepada pimpinan partai saya.  Saya mendapat dukungan luar biasa dari pimpinan partai NasDem untuk membela kemanusiaan dan keadilan.

Kalau saya pakai cara berpikir Sis Grace menembak peserta lain dalam kompetisi pileg   bisa saja saya lakukan. Tapi itu tidak elegan.  Kebaikan dan kebajikan yang kita lakukan bukanlah ditujukan untuk merendahkan orang lain yang tidak melakukan apa-apa.  Melakukan kebaikan biarlah orang lain yang menilai.  Jangan seperti orang Farisi yang rajin beribadah lalu mencela orang lain yang tidak beribadah.  Jangan.  Jangan Sis Grace.

“Sedang apa kalian ketika 13 Januari lalu terjadi persekusi atas jemaat GBI Philadelpia yang sedang beribadah di Labuhan Medan? Kenapa hanya PSI yang memprotes?

Mana suara Partai Nasionalis lain ketika pada 17 Desember, nisan kayu salib dipotong dan prosesi doa kematian seorang warga Katolik ditolak massa. Cuma Sekjen PSI yang menyampaikan kecaman!”, ucap Sis Grace dengan gusar.

Mengapa Sis Grace berpidato dengan menembak peserta lain yang sama-sama sedang dalam lintasan kontestasi?

Untuk gugatan anda itu semua sudah saya kerjakan.  Saya menulis pembelaan tentang peristiwa di Labuhan Deli Medan.  Juga kecaman saya lada pemotongan kayu salib di Yogyakarta. Hingga berujung permohonan maaf Sultan Yogyakarta.

Nah,  sekarang saya pakai cara Sis Grace untuk merendahkan kader anda yang sedang nyaleg. Saya juga bertanya kemana PSI saat terjadi kasus kematian Bayi Deborah dua tahun lalu karena orang tuanya tidak punya uang muka?  Kasus itu seminggu lebih menjadi headline nasional.  Masuk ILC TV One menjadi topik yang dibahas.  Judulnya Deborah Tragedi Kita.  Kemana kader PSI?  Adakah peduli?  Adakah berempati?

Saya bersyukur akhirnya  perjuangan membela bayi Deborah membawa perubahan pada pelayanan rumah sakit di Jakarta.  Ibu Menkes melalui Dinkes DKI Jakarta memaksa seluruh rumah sakit di Jakarta tanda tangan komitmen untuk memastikan setiap pasien gawat darurat tidak boleh lagi diminta uang muka.  Harus diselamatkan dahulu tanpa syarat.

Saya juga bertanya kemana kader PSI saat rintihan orang tua  Alvaro dan Trinity yang menjadi korban teroris bom molotov di Gereja HKBP Samarinda?

Adakah kepedulian atas masa depan dua bocah yang kulit tubuhnya terbakar  hingga wajah mereka seperti monster dari PSI?

Jika memakai standar Sis Grace maka saya boleh juga jumawa hanya saya kader NasDem yang menyuarakan suara rintihan getir mereka.  Bukan sekedar menyuarakan tapi juga menggalang dana untuk perobatan Alvaro dan Trinity hingga bisa dioperasi di Kuala Lumpur dan Guang Zhou.

Saya juga mendesak Presiden Jokowi membatalkan rencana pembebasan tanpa syarat Ustad ABB beberapa waktu  lalu.  Meskipun saya harus dicaci maki dan dibully karena berseberangan  dengan arus besar pendukung Jokowi.

Saya menuliskan  ini bukanlah bermaksud memojokkan Sis Grace dan keluarga  besar PSI.  Saya hanya ingin agar kita sebagai anak bangsa dalam Koalisi Indonesia Maju yang sedang berjuang mewujudkan mimpi besar tentang Indonesia Maju tidak menggunakan cara atau siasat menjatuhkan partai lain agar partai anda menonjol sendiri.  Tidak elok pakai cara tidak sportif dengan mengerdilkan partai lain agar partai anda sendiri yang juara pertama.

Saya berharap cukup kali ini saja pidato seperti ini terjadi.  Tidak perlu agar rumah anda tampak bercahaya lalu menggelapkan rumah orang lain.  Saya menolak cara berjuang seperti ini.

Terimakasih mohon maaf kalau tulisan saya ini menyinggung perasaan anda dan teman2 seperjuangan di PSI. Salam perjuangan penuh  cinta. (*)

(Penulis Caleg Partai NasDem No Urut 7 DPRD Jakarta. Dapil 3 Kec Pademangan,  Penjaringan dan Tj Priuk).

LEAVE A REPLY