Tanggapi Kritik PSI, Politisi Nasdem: Ke Mana PSI Saat Kasus Bayi Deborah?

0
46
Politisi Partai Nasdem, Birgaldo Sinaga. ( Foto: Istimewa )

Jambipos, Jakarta– Politisi Partai Nasdem, Birgaldo Sinaga mengatakan, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie terkesan tidak sportif, karena menyerang partai-partai nasionalis lain dengan menganggap mereka diam terhadap kasus-kasus intoleransi dan diskriminasi belakangan ini.

“Nah, sekarang saya pakai cara Grace untuk merendahkan kader anda yang sedang menjadi caleg. Saya juga bertanya, ke mana PSI saat terjadi kasus kematian bayi Deborah dua tahun lalu, karena orangtuanya tidak memiliki uang muka? Kasus itu seminggu lebih menjadi headline media massa nasional. Ke mana kader PSI? Adakah peduli? Adakah yang berempati?” ujar Birgaldo Sinaga melalui surat terbuka yang diterima Beritasatu.com di Jakarta, Selasa (12/3/2019).

Birgaldo Sinaga bersyukur bahwa perjuangannya membela bayi Deborah kala itu membawa perubahan pada pelayanan rumah sakit di Jakarta. “Ibu Menteri Kesehatan (Menkes) melalui Dinas Kesehatan DKI Jakarta memaksa seluruh rumah sakit di Jakarta menandatangani komitmen untuk memastikan setiap pasien gawat darurat tidak boleh lagi diminta uang muka. Harus diselamatkan dahulu tanpa syarat,” ujarnya.

Tidak hanya dalam kasus bayi Deborah, Birgaldo Sinaga juga bertanya, ke mana kader PSI saat rintihan orangtua Alvaro dan Trinity yang menjadi korban teroris bom molotov di Gereja HKBP Samarinda. “Adakah kepedulian PSI atas masa depan dua bocah yang kulit tubuhnya terbakar hingga wajah mereka rusak?” ujar Birgaldo Sinaga.

Jika memakai standar Ketua Umum PSI Grace Natalie, kata Sinaga, maka dia boleh juga jumawa. ”Hanya saja, saya sebagai kader Partai Nasdem yang menyuarakan suara rintihan getir mereka. Bukan sekadar menyuarakan, tetapi juga menggalang dana untuk perobatan Alvaro dan Trinity hingga bisa dioperasi di Kuala Lumpur dan Guang Zhou,” ujarnya.

Birgaldo Sinaga juga mengungkapkan, dirinya juga mendesak Presiden Jokowi membatalkan rencana pembebasan tanpa syarat ustaz Abu Bakar Ba’asyir beberapa waktu lalu. “Meskipun saya harus dicaci maki dan di-bully karena berseberangan dengan arus besar pendukung Jokowi,” katanya.

Meski demikian, Sinaga menegaskan, dirinya tidak bermaksud memojokkan Grace Natalie dan keluarga besar PSI. Menurut Birgaldo Sinaga, dia hanya ingin agar sebagai anak bangsa, terutama yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Maju, yang sedang berjuang mewujudkan mimpi besar tentang Indonesia maju, jangan menggunakan cara-cara atau siasat menjatuhkan partai lain agar ada partai yang menonjol sendiri.

“Tidak elok jika memakai cara tidak sportif dengan mengerdilkan partai lain agar partai anda sendiri yang juara pertama. Saya berharap cukup kali ini saja pidato seperti ini terjadi. Tidak perlu agar rumah anda tampak bercahaya lalu menggelapkan rumah orang lain. Saya menolak cara berjuang seperti itu,” katanya.

Seperti diberitakan, dalam pidatonya di Medan, Senin (11/3/2019), Grace menganggap PSI yang dipimpinnya berbeda dengan partai nasionalis lain, yang menurutnya lebih banyak diam terkait kasus-kasus intoleransi dan diskriminasi belakangan ini.

“Sedang apa kalian ketika 13 Januari lalu terjadi persekusi atas jemaat GBI Philadelpia yang sedang beribadah di Labuhan, Medan? Kenapa hanya PSI yang memprotes? Mana suara partai nasionalis lain ketika pada 17 Desember, nisan kayu salib dipotong dan prosesi doa kematian seorang warga Katolik ditolak massa. Cuma Sekjen PSI yang menyampaikan kecaman!” kata Grace.(*)

Sumber: BeritaSatu.com

LEAVE A REPLY