Menulis adalah Tanggung Jawab Sosial Seorang Intelektual

0
128
Sahala Tua Saragih dalam amatan penulis adalah tipe intelektual yang memiliki perspektif, pengetahuan bukanlah hanya milik mereka yang berpunya, berpengetahuan sejatinya adalah hak kaum marjinal juga, termasuk kaum miskin yang ada di berbagai sudut kota Bandung. Mungkin perspektif ini yang telah mendorongnya rajin menulis berbagai tema di surat kabar yang banyak dibaca kaum marjinal. FB

Oleh: M.Z. Al-Faqih

Jambipos-Sahala Tua Saragih, seorang dosen yang produktif menulis di surat kabar. ia adalah dosen program studi (prodi) jurnalistik Fikom Unpad. Penulis mengenalnya setelah penulis menjadi dosen di prodi ini. Bagi penulis, ia adalah sosok pribadi menarik. Ia yang dosen senior enggan disapa dengan sebutan “Bapak” oleh dosen yang usianya lebih muda. Menurut usia, Ia sudah berhak dan layak menyandang sebutan itu. Ia lebih nyaman disapa dengan sebutan “abang” oleh dosen muda. Ia ingin menghilangkan sekat senior-junior yang menjadikan hubungan sosial kaku. Ini salah satu hal menarik darinya, mengamalkan laku egaliter dalam berkomunikasi.

Sahala Tua Saragih dalam amatan penulis adalah tipe intelektual yang memiliki perspektif, pengetahuan bukanlah hanya milik mereka yang berpunya, berpengetahuan sejatinya adalah hak kaum marjinal juga, termasuk kaum miskin yang ada di berbagai sudut kota Bandung. Mungkin perspektif ini yang telah mendorongnya rajin menulis berbagai tema di surat kabar yang banyak dibaca kaum marjinal.

Sahala cukup sering menulis di surat kabar Tribun Jabar, koran yang harga ecerannya cukup murah. Wajahnya memancarkan bahagia saat artikelnya di koran itu dibaca oleh orang orang pinggiran di berbagai sudut kota, dan kaum marjinal itu menyapa dirinya saat jumpa dalam kesempatan yang tak terduga.

Sahala Tua Saragih memang unik, ia tak mau dirinya seperti sebagian intelektual kampus lainnya, yang menikmati hidup dengan duduk di “menara gading”, yang gagasan-gagasannya jarang diketahui khalayak luas, maklum, sebagian intelektual kampus saat ini waktunya lebih banyak dihabiskan untuk berjuang agar artikelnya dapat dimuat di berbagai jurnal terindeks seperti scopus dll, yang mungkin masyarakat pinggiran (pengemudi ojek, pedagang kaki lima, pedagang cilok, pedagang asongan di berbagai sudut lampu merah) tak pernah berkesempatan membaca jurnal-jurnal itu.

Sahala Tua Saragih adalah dosen senior yang giat memotivasi dosen muda, untuk mengikuti jejaknya, agar giat menulis di surat kabar, agar gagasan dosen muda dapat diketahui publik dan ikut berkontribusi memberikan solusi atas masalah sosial yang ada. Ia juga rajin mengajak diskusi dosen muda karena ingin mengetahui perspektif dosen muda atas berbagai masalah yang ada. Caranya bertanya, ingatan penulis langsung tertuju pada “Socrates” yang menggunakan teknik bertanya untuk menemukan hakikat kebenaran. Ya, Sahala Tua Saragih akan terus bertanya manakala ia belum mendapatkan jawaban yang menukik pada inti masalah. Tanpa disadari ia sebenarnya tengah mendidik kami yang muda-muda bahwa berdiskusi adalah cara menemukan jawaban, asal diskusi dimaksudkan untuk menggali dan menemukan jawaban bukan sebagai ajang pamer pengetahuan yang dikuasai.

Tulisan-tulisan Sahala Tua Saragih di berbagai media, Pikiran Rakyat dan Tribun Jabar, menyasar berbagai isu, mulai dari kritiknya terhadap perilaku dosen yang mudah mengkritik tapi minim pengetahuan, kritiknya kepada pers agar selalu memberitakan yang benar dan taat pada kode etik, hingga ulasannya tentang sosok-sosok yang inspiratif, yang publik perlu tahu agar meneladani kegigihan para tokoh besar itu.

Tulisan Sahala di Pikiran Rakyat, 23 Februari 2012, yang berkisah tentang seorang dosen di fakultas psikologi universitas ternama cukup menarik. Dosen di fakultas psikologi itu mengkritik mahasiswa yang tengah mewawancarainya dan menganggap mahasiswa itu berperilaku tidak sopan, hanya karena mahasiswa itu pada saat mewawancarainya menyapa dengan sapaan “Anda”. Sahala menjelaskan dalam artikel di koran itu, andai dosen psikologi itu memiliki pengetahuan tentang kata “Anda”, mungkin tak perlu bersikap seperti itu pada mahasiswa. Kata “Anda” adalah sapaan yang sopan yang ditemukan oleh Sabirin, Perwira Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), yang menggali kata “Anda” dari kamus Modern Bahasa Indonesia karya Sutan Muhamad Zain. Kata “Anda” bermakna yang mulia atau yang terhormat.

Dalam artikelnya yang lain di Pikiran Rakyat, 29 Maret 2017, Sahala mengkritik pemerintah yang kurang peduli pada Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID), lembaga pengawas isi siaran TV dan radio di daerah, yang berdiri berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran. Pasalnya, dengan terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18/2016 tentang perangkat daerah, PP ini telah menghilangkan kelembagaan sekretariat Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID). PP 18/2016 ini memposisikan KPID sulit difasilitasi anggaran karena KPID bukan bagian dari pemerintahan daerah. Kritik Sahala ini sebenarnya bagian dari upaya publik untuk menjaga agar lembaga KPID tetap eksis dan terus memperjuangkan kepentingan publik di penyiaran.

Dalam artikelnya yang lain, Sahala menulis di Tribun Jabar tentang sosok Ajip Rosjidi, budayawan, yang berhasil dalam hidup karena mengakrabi ilmu pengetahuan, walau Ia tak bergelar akademis. Ajip di mata Sahala adalah sosok yang inspiratif, yang amat peduli pada ilmu pengetahuan. Dalam artikelnya itu Sahala kisahkan kegigihan Ajip dalam menimba pengetahuan, juga keteguhan Ajip dalam memperjuangkan idealismenya, bahwa seseorang dapat meraih bahagia dan sukses hidup dengan mengakrabi pengetahuan. Ajip adalah teladan bagi khalayak. Sahala bahagia artikelnya itu dimuat Tribun Jabar. Koran yang memuat artikelnya itu, yang Ia sengaja beli dari pengecer, Ia berikan kepada Ajip Rosjidi, pada saat acara milad Ajip Rosjidi di Bandung.

Begitulah Sahala, selalu mencatat hal hal menarik dan mengisahkan dalam artikel di berbagai koran sebagai bahan belajar bagi khalayak luas. Ia sebagai intelektual tampaknya sangat sadar akan tanggungjawab sosialnya, bahwa menulis bagi seorang intelektual adalah darma kepada masyarakat. Bang Sahala, Teruslah menulis! untuk pencerahan anak bangsa. Salam hormat.(JP-Penulis adalah Dosen Universitas Padjadjaran Bandung, Advokat PERADI)

 

Sumber: Facebook M Z Al Faqih

LEAVE A REPLY