Merebut Suara di “Kandang” Lawan

0
54
Capres nomor urut 01 Joko Widodo dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto, berjabat tangan usai mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019). Debat itu mengangkat tema Ideologi, Pemerintahan, Pertahanan dan Keamanan, serta Hubungan Internasional. SP/Joanito De Saojoao.

“Perang” di Kandang Lawan

Jambipos-Jakarta– Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, 17 April 2019, kurang dari dua hari lagi. Berbagai cara dilakukan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden untuk bisa memenangkan pertarungan. Salah satunya adalah dengan merebut suara di daerah-daerah yang menjadi basis massa pendukung lawan. Ini tidak mudah. Tetapi, bukan berarti tidak bisa dilakukan.

Bisa dikatakan genderang perang di “kandang” lawan ini dimulai oleh kubu pasangan nomor urut 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga S Uno. Beberapa bulan lalu mereka telah menargetkan kemenangan di Jawa Tengah (Jateng). Padahal, selama ini Jateng dikenal sebagai basis massa pendukung capres nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi) bersama partai pengusung utamanya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Ferdinand Hutahaean pernah mengatakan, PDIP dan Jokowi adalah satu kesatuan. Itu Artinya ada pengakuan bahwa memang cukup sulit untuk merebut suara untuk Prabowo-Sandi di Jateng, Namun, bukan berarti BPN menyerah. Mereka bahkan memindahkan markas perjuangan ke Jateng untuk memecah suara PDIP dan menggerus elektabilitas Jokowi pada Pilpres 2019.

Peluang Prabowo-Sandi menggerus elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin di Jateng terbuka bila melihat hasil Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2018, yakni antara pasangan Sudirman Said-Ida Fauziah yang diusung Partai Gerindra dan koalisinya versus Ganjar Pranowo-Taj Yasin yang diusung PDIP bersama partai koalisi lainnya.

Memang saat itu Ganjar menang. Tetapi, suara yang diperoleh Sudirman-Ida Fauziah cukup signifikan. Mereka berhasil meraih suara 41% atau hanya berjarak sedikit saja dari Ganjar yang meraih 58% suara. “Meski Jateng basis Banteng (PDIP, Red) yang loyal dan militan, tetapi masih ada celah untuk pasangan calon masuk dengan menawarkan ekspektasi yang bisa diterima masyarakat Jateng. Saya kira masih bisa memenuhi target,” kata Ferdinand.

Dia menerangkan, celah itu terbuka dari undecided voters atau pemilih yang belum menentukan pasangan capres-cawapres yang akan dipilih di Pilpres 2019 mendatang. Dia memperkirakan, angka undecided voters di Jateng tinggi, yang sebagian besar adalah kalangan milenial.

Berkaca dari Pilgub Jateng, dia meyakini siapa pun yang bisa merangkul undecided voters pada Pilpres 2019 akan mengubah hasil secara signifikan. Dia menilai, pengemasan isu di media sosial sulit memengaruhi pemilih di Jawa Tengah. Selain karena faktor loyalitas, mayoritas pemilih di Jawa Tengah juga disebut tak banyak mengakses media sosial. Prabowo disebutkan bisa meraih suara undecided voters dari kalangan milenial jika mampu mengemas isu apik di media sosial.

Jateng termasuk dalam urutan ketiga kantong perebutan suara Jokowi dan Prabowo dengan jumlah pemilih sebanyak 27.430.269 orang. Provinsi ini menjadi salah satu titik lemah Prabowo, di mana mantan Danjen Kopassus itu hanya meraih 6.485.720 suara dari total pemilih 19.445.260 suara sah pada Pilpres 2014. Di saat yang sama, Jokowi meraih 12.959.540 suara atau hampir dua kali lipat dari perolehan suara Prabowo saat itu.

Kepercayaan Diri

Peneliti dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes mengatakan, tim sukses Prabowo berkaca pada hasil Pilgub Jateng, yang membuat mereka melihat ada peluang untuk merebut suara Jokowi di sana. Hasil Pilgub Jateng itu yang memunculkan kepercayaan diri kubu Prabowo.

Kampanye Akbar Capres Paslon 01 JokowiAmin di GBK Sabtu 13 April 2019.

“Kepercayaan diri tim Prabowo-Sandi sepertinya berangkat dari hasil Pilgub Jawa Tengah, di mana secara mengejutkan Sudirman Said mampu memberikan perlawanan keras dari calon yang diusung PDIP. Dalam perspektif kampanye, ini cara tim Prabowo untuk memperluas zona pertarungan dengan petahana dan menggeser pertarungan ke banyak tempat, sehingga membelah fokus tim petahana,” kata Arya.

Pengamat politik dari lembaga survei Median, Rico Marbun mengatakan, kubu Prabowo ingin menjatuhkan mental Jokowi lantaran dengan mendirikan posko pertempuran di Solo, Jateng. Apalagi, Solo merupakan basis massa Jokowi.

“Pihak Prabowo ingin menjatuhkan mental tempur Jokowi. Solo adalah akar Jokowi, sementara Jawa Tengah secara umum adalah basis Jokowi. Jadi, Prabowo ingin memberi pesan ke Jokowi ‘saya (Prabowo) tidak takut untuk bertarung di kandang anda (Jokowi)’,” kata Rico.

Prabowo juga dinilai tidak perlu khawatir jika kalah tipis oleh Jokowi di Jateng. Sebab, itu tetap membuka peluang Prabowo menang secara nasional dengan catatan unggul di kantong suara lainnya. “Untuk menang secara nasional, Prabowo tidak perlu menang di Jateng. Prabowo kalah tipis saja di Jateng, itu artinya sudah membuka peluang menang secara nasional,” kata Rico.

Sementara, Direktur Eksekutif Vox Pol Center Pangi Syarwi Chaniago berpendapat, pemindahan markas perjuangan Prabowo-Sandi ke Jateng beberapa waktu lalu merupakan upaya melakukan perang urat saraf . BPN Prabowo-Sandi, ujarnya, berusaha menjatuhkan mental lawan di kandangnya sendiri. “Saya pikir ini adalah sesuatu yang normal. Prabowo-Sandi sedang berupaya memperkecil ketimpangan atau margin elektoral di Jateng,” kata Pangi.

Meski demikian, Pangi pesimistis bila Prabowo-Sandi bisa mengalahkan Jokowi-Ma’ruf di Jateng. Upaya-upaya yang dilakukan BPN Prabowo-Sandi diperkirakan hanya bisa mengurangi margin kekalahan. Prediksi itu berdasakan perolehan suara Prabowo dan Jokowi pada Pilpres 2014.

Saat itu, Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf Kalla meraih 12.959.540 suara atau 66,65%, sedangkan suara Prabowo-Hatta hanya 6.485.720 suara atau 33,35%. “Medannya tidak mudah dan nyaris sama dengan Pilpres 2014. Ada tantangan tersendiri. Namun, sepertinya BPN Prabowo-Sandi sedang melakukan cek ombak,” ucap Pangi

Merebut wilayah yang secara tradisional milik partai lain bukan perkara yang mudah. Apalagi, bagi wilayah seperti Jateng yang selama bertahun-tahun sudah “milik” PDIP. Partai yang dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri ini tidak hanya memenangi wilayah ini secara konsisten, tetapi marjin kemenangan mereka juga tergolong tinggi.

Meski demikian, merebut wilayah tradisional milik partai lain sebenarnya bukan hal yang sama sekali tidak mungkin. Jawa Timur (Jatim) merupakan sebuah contoh bagaimana sebuah wilayah dapat jatuh ke tangan partai lain, meski secara tradisional menjadi basis massa partai tertentu.

Jatim dianggap sebagai provinsi yang secara tradisional adalah “hijau” karena lekat dengan tradisi Nahdlatul Ulama (NU). Setelah Era Reformasi, unsur hijau milik NU itu diterjemahkan ke partai yang berhaluan serupa, yaitu PKB. Pada Pemilu 1999 dan 2004, PKB berhasil membuat Jatim menjadi basis suara mereka.

Namun, pada 2009, Partai Demokrat berhasil mengubah warna hijau Jatim menjadi biru. Di luar dugaan, Demokrat berhasil menghentikan dominasi PKB dan mendapatkan suara terbanyak di provinsi tersebut. Tidak hanya itu, Partai Demokrat juga sudah terlebih dulu mengamankan posisi gubernur, sehingga Jatim bisa dikatakan menjadi provinsi biru secara utuh.

Kemenangan Demokrat di Jatim itu menjadi gambaran bahwa merebut basis suara partai lain bukan sesuatu yang sama sekali mustahil. Boleh jadi, Sandiaga dan tim pemenangannya bisa mengambil kiprah Demokrat tersebut sebagai gambaran untuk menggoyang kandang banteng.

Perlu diakui, mengambil alih kandang banteng bukanlah perkara yang benar-benar mudah. Diperlukan kerja ekstra keras bagi Prabowo dan Sandiaga. Namun, kerja keras ini bisa berbuah manis dan berujung pada sebuah kursi di Istana.

Membidik Bumi Parahyangan

Upaya untuk merebut kandang lawan juga dilakukan oleh Jokowi. Incaran utamanya adalah Jawa Barat (Jabar). Bisa jadi, salah satu alasan Jokowi menunjuk KH Ma’ruf Amin sebagai pasangannya karena ingin merebut suara di Jabar dan Banten. Tipikal masyarakat di dua provinsi itu adalah masyarakat yang relijius, sesuai dengan karakter Kiai Ma’ruf.

Capres 02 Prabowo Subianto saat kampanye akbar, di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (7/4/2019) ( Foto: istimewa )

Apalagi, selama bertahun-tahun keislaman Jokowi diberi stigma tidak kuat. Stigma seperti ini, yang terus menerus digaungkan di kalangan masyarakat bawah yang amat relijius di Jabar, sangat mengena. Itu juga yang membuat Jokowi kalah di provinsi ini pada Pilpres 2014. Dari total suara sah sebanyak 23.697.696 orang, Jokowi-JK mendapatkan 40,22% atau 9.530.315 atau kalah dari pasangan Prabowo-Hatta yang mendapatkan 14.167.381 suara (59,78%).

Calon wakil presiden nomor urut 01, KH Ma’ruf Amin pun optimistis bisa merebut kemenangan di Jabar. Keyakinan itu muncul setelah dia berkeliling sejumlah daerah di Jabar, awal Maret lalu. Daerah-daerah yang disambangi Kiai Ma’ruf antara lain Cirebon, Kuningan, Banjar, Pangandaran, Ciamis, dan barakhir di Majenang.

Melalui safari politik itu, Kiai Ma’ruf optimistis bisa mencapai target perolehan suara di Jabar sebesar 60%. “Saya optimistis melihat trennya itu terus naik. Tren (perolehan suara) di Jabar ini terus naik,” kata Kiai Ma’ruf saat itu.

Kubu Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf mengatakan, kekalahan Jokowi di Jabar pada Pilpres 2014 karena banyak masyarakat yang termakan kabar bohong. Oleh karena itu, Kiai Ma’ruf berkeliling Jabar untuk meluruskan kabar bohong tentang Jokowi itu. Dia ingin menjaga agar masyarakat tidak terprovokasi.

Untuk merebut suara pemilih mengambang atau yang belum menentukan pilihan, Kiai Ma’ruf bersama tim sukses Jokowi terus mengampanyekan keberhasilan pemerintahan Jokowi-JK. Diyakini, kampanye keberhasilan itu akan menepis isu-isu bohong dan fitnah yang selama ini dilontarkan kubu lawan.(*)

Sumber: Suara Pembaruan

LEAVE A REPLY