Menjinakkan Inflasi Dengan Kebijakan Yang Tepat

0
132
ILUSTRASI-Memasuki Bulan Suci Ramadhan harga sayuran di Pasaran mengalami kenaikan. Foto IST

Oleh: Gerald Deo Christian

Jambipos-Inflasi adalah suatu keadaan perekonomian di mana harga-harga secara umum mengalami kenaikan dalam waktu yang panjang. Inflasi dapat terjadi karena jumlah uang beredar lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Inflasi merupakan suatu gejala ekonomi yang tidak pernah dapat dihilangkan dengan tuntas. Usaha-usaha yang dilakukan biasanya hanya sebatas mengurangi dan mengendalikannya. Kondisi inflasi sangat dihindari oleh sebuah negara karena akan mengganggu kestabilan ekonomi suatu negara.

Dampak dari inflasi ini juga berpengaruh ke semua bidang, tidak hanya ekonomi saja bahkan negara lain pun dapat terkena dampak inflasi dari negara lainnya. Beberapa masalah yang ditimbulkan dari inflasi seperti turunnya nilai mata uang, kenaikan harga, peningkatan pengangguran, penurunan kesejahteraan, hilangnya investasi, dan masih banyak lagi yang lainnya. Layaknya lingkaran setan, inflasi harus segera diatasi sebelum menimbulkan berbagai macam masalah yang lebih besar.

Penggolongan inflasi sendiri dapat dibagi menjadi empat golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi bila kenaikan harga berada di bawah angka 10% dalam setahun, inflasi sedang antara 10%-30% dalam setahun, inflasi berat antara 30%-100% dalam setahun, dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% dalam setahun.

Terdapat berbagai macam cara untuk mengukur tingkat inflasi tetapi yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator. Namun, untuk Indonesia sendiri penghitungan inflasi biasanya dilakukan oleh Bank Indonesia. Biasanya tingkat inflasi setiap harinya akan dipublikasikan oleh BI melalui media, seperti social media, media cetak, televisi.  Sehingga Anda dapat memantaunya dengan mudah. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya inflasi. Berikut adalah beberapa penyebabnya :

1.  Inflasi Karena Permintaan (Demand Pull inflation)

Inflasi ini bisa terjadi karena permintaan atau daya tarik masyarakat yang kuat terhadap suatu barang. Inflasi terjadi karena munculnya keinginan berlebihan dari suatu kelompok masyarakat yang ingin memanfaatkan lebih banyak barang dan jasa yang tersedia di pasaran. Karena keinginan yang terlalu berlebihan itu, permintaan menjadi bertambah, sedangkan penawaran masih tetap yang akhirnya mengakibatkan harga menjadi naik.

2.  Inflasi Karena Bertambahnya Uang yang Beredar (Quantity Theory Inflation)

Inflasi disebabkan karena bertambahnya uang yang beredar dikemukakan oleh kaum klasik yang menyatakan bahwa ada keterkaitan antara jumlah uang yang beredar dengan harga-harga. Apabila jumlah barang tetap namun jumlah uang yang beredar lebih besar dua kali lipat, maka harga barang pun menjadi lebih mahal dua kali lipat.

3.  Inflasi Karena Kenaikan Biaya Produksi (Cost Push Inflation)

Inflasi ini disebabkan karena adanya dorongan kenaikan biaya produksi dalam jangka waktu tertentu secara terus menerus. Secara umum inflasi kenaikan biaya produksi ini disebabkan karena desakan biaya faktor produksi yang terus naik.

4.  Inflasi Campuran (Mixed Inflation)

Inflasi campuran ini terjadi karena adanya kenaikan penawaran dan permintaan. Hal ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan. Ketika permintaan terhadap suatu barang atau jasa bertambah, kemudian mengakibatkan penyediaan barang dan faktor produksi menjadi turun. Sementara itu, pengganti atau substitusi untuk barang dan jasa tersebut terbatas atau tidak ada. Keadaan yang tidak seimbang ini akan menyebabkan harga barang dan jasa menjadi naik. Inflasi jenis ini akan sangat sulit diatasi atau dikendalikan ketika kenaikan supply akan suatu barang atau jasa lebih tinggi atau setidaknya setara dengan permintaan.

5.  Inflasi Karena Struktural Ekonomi yang Kaku (Structural Theory Inflation)

Menjelaskan penyebab inflasi dari segi struktural ekonomi yang kaku. Produsen tidak bisa mencegah dengan cepat kenaikan permintaan yang diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk. Akhirnya permintaan sulit dipenuhi saat ada pertumbuhan jumlah penduduk.

Secara garis besar, inflasi merupakan kejadian atau gejala ekonomi yang tidak bisa dihilangkan secara tuntas. Inflasi juga akan memberi dampak yang besar jika tidak segera dilakukan pencegahan dengan kebijakan yang tepat.

Mengingat pentingnya mengatasi masalah inflasi, maka perlu penanganan yang serius dalam pengerjaannya. Untuk mengatasi hal tersebut, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengetahui penyebab terjadinya inflasi agar jalan untuk mengatasinya dapat diketahui.

Penyebab inflasi tidak hanya berhubungan dengan jumlah uang yang beredar, akan tetapi juga berhubungan dengan jumlah barang dan jasa yang tersedia di masyarakat. Di Indonesia, untuk mengatasi inflasi sudah ada lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah yakni Bank Indonesia. Bank Indonesia memiliki tugas mengatasi inflasi dengan kebijakan-kebijakan yang tepat. Kebijakan yang bisa diambil untuk mengatasi masalah inflasi ada tiga yaitu kebijakan moneter, kebijakan fiskal, dan kebijakan lainnya.

Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter adalah segala bentuk kebijakan yang diambil pemerintah di bidang moneter (keuangan) yang tujuannya untuk menjaga kestabilan moneter agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kebijakan moneter meliputi:

a.    Kebijakan Penetapan Persediaan Kas

Bank Indonesia dapat mengambil kebijakan untuk mengurangi uang yang beredar dengan jalan menetapkan persediaan uang yang beredar dan menetapkan persediaan uang kas pada bank-bank. Dengan mengurangi jumlah uang beredar, inflasi dapat ditekan.

b.    Kebijakan Diskonto

Untuk mengatasi inflasi, Bank Indonesia dapat menerapkan kebijakan diskonto dengan cara meningkatkan nilai suku bunga. Tujuannya adalah agar masyarakat terdorong untuk menabung. Dengan demikian, diharapkan jumlah uang yang beredar dapat berkurang sehingga tingkat inflasi dapat ditekan.

c.     Kebijakan Operasi Pasar Terbuka

Melalui kebijakan ini, Bank Indonesia dapat mengurangi jumlah uang yang beredar dengan cara menjual surat-surat berharga. Semakin banyak jumlah surat-surat berharga yang terjual, jumlah uang beredar akan berkurang sehingga dapat mengurangi tingkat inflasi.

2.  Kebijakan Fiskal

Kebijakan fiskal adalah langkah untuk memengaruhi penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan itu dapat memengaruhi tingkat inflasi. Kebijakan fiskal antara lain sebagai berikut:

a.    Menghemat Pengeluaran Pemerintah

Pemerintah dapat menekan inflasi dengan cara mengurangi pengeluaran, sehingga permintaan akan barang dan jasa berkurang yang pada akhirnya dapat menurunkan harga.

b.    Menaikkan Tarif Pajak

Untuk menekan inflasi, pemerintah dapat menaikkan tarif pajak. Naiknya tarif pajak untuk rumah tangga dan perusahaan akan mengurangi tingkat konsumsi. Pengurangan tingkat konsumsi dapat mengurangi permintaan barang dan jasa, sehingga harga dapat turun.

3.  Kebijakan Lainnya

Untuk memperbaiki dampak yang diakibatkan inflasi, pemerintah menerapkan kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Tetapi selain kebijakan moneter dan fiskal, pemerintah masih mempunyai cara lain. Cara lain dalam mengendalikan inflasi adalah sebagai berikut:

a.    Meningkatkan Produksi & Menambah Jumlah Barang di Pasar

Untuk menambah jumlah barang, pemerintah dapat mengeluarkan perintah untuk meningkatkan produksi. Hal itu dapat ditempuh dengan memberi premi atau subsidi pada perusahaan yang dapat memenuhi target tertentu. Selain itu, untuk menambah jumlah barang yang beredar, pemerintah juga dapat melonggarkan keran impor. Misalnya, dengan menurunkan bea masuk barang impor.

b. Menetapkan Harga Maksimum untuk Beberapa Jenis Barang

Penetapan harga tersebut akan mengendalikan harga yang ada sehingga inflasi dapat dikendalikan. Tetapi penetapan itu harus realistis. Kalau penetapan itu tidak realistis, dapat berakibat terjadi pasar gelap (black market).

Mengatasi inflasi itu sendiri bukanlah hal yang mudah. Banyak sekali contoh Negara yang mengalami krisis karena inflasi dan masih berusaha mengatasinya, juga sudah terdapat contoh Negara yang hancur karena tidak dapat mengontrol laju inflasi. Untuk itu dibutuhkan kerja sama yang baik antara pemerintah dan Bank Indonesia serta pengambilan keputusan yang tepat untuk mengotrol laju inflasi sehingga pertumbuhannya bisa stabil dan terkendali.(JP-Penulis Adalah , mahasiswa aktif di Politeknik Keuangan Negara STAN)

LEAVE A REPLY