Serikat Petani Jambi Bantah Kerahkan Petani Bakar Alat Berat Perusahaan HTI

0
169
Menurut Suwardi, petani Desa Napal Putih yang tanahnya digarap PT LAJ bernama Edi S. Namun Edi S dan massa yang diduga melakukan pembakaran alat berat PT LAJ bukan anggota SPI. IST

Jambipos, Jambi- Serikat Petani Indonesia (SPI) Perwakilan Jambi membantah mengerahkan para petani membakar alat berat perusahaan hutan tanaman industri (HTI) PT Lestari Asri Jaya (LAJ) di Desa Napal Putih, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. Para petani Desa Napal Putih, Tebo yang membakar alat-alat berat PT LAJ bukan dari petani anggota SPI Jambi.

“Memang ada petani di Desa Napal Putih, Tebo yang masuk organisasi SPI. Namun tidak ada petani anggota SPI di desa tersebut yang terlibat pembakaran alat berat perusahaan. Kami juga tidak ada mengorganisir petani melakukan unjuk rasa dan membakar alat berat perusahaan tersebut,”kata Ketua SPI Provinsi Jambi, Suwardi di Jambi, Kamis (16/5/2019).

Menurut Suwardi, petani Desa Napal Putih yang tanahnya digarap PT LAJ bernama Edi S. Namun Edi S dan massa yang diduga melakukan pembakaran alat berat PT LAJ bukan anggota SPI.

“Karena itu kalau ada yang menuding petani anggota SPI yang mengorganisir pembakaran alat berat PT LAJ, hal itu tidak benar,” tambahnya.

Dikatakan, pihaknya selama ini turut memperjuangkan penyelesaian konflik lahan antara petani Desa Napal Putih dengan perusahaan sawit di daerah itu. Namun jalur penyelesaian tidak pernah dilakukan dengan cara-cara anarkis, tetapi melalui mediasi atau musyawarah.

“Untuk kasus konlik lahan yang terjadi di Desa Napal Putih saat ini, kami akan mencari solusi agar konflik tidak berlanjut. Kami akan mengupayakan penyelesaian sengketa lahan tersebut ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta,” ujarnya.

Sementara itu Direktur PT LAJ, Meizani Irmadhiny di Tebo, mengatakan, pihaknya sudah membentuk Tim Resolusi Konflik untuk menyelesaikan sengketa lahan antara petani Desa Napal Putih, Tebo dengan perusahaan mereka. Tim tersebut terdiri dari unsur pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), petani, organisasi petani, para ahli dan perusahaan.

“Kami berkomitmen mematuhi segala kesepakatan yang diputuskan tim demi mencegah terjadinya kembali konflik. Kami juga selalu menjalankan kegiatan operasional perusahaan sesuai dengan peraturan-peraturan pemerintah dan kesepakatan perundingan,” katanya.

Dijelaskan, kasus pembakaran lima alat berat dan penahanan tiga karyawan perusahaan PT LAJ yang dilakukan petani Desa Napal Putih, Tebo, Selasa (14/5/2019) berawal dari kegiatan pembersihan lahan perusahaan, Senin (13/5/2019). Ketika alat berat bekerja, para petani melakukan penghadangan.

Setelah itu, petani dan perusahaan melakukan perundingan. Perundingan turut dihadiri pihak Pemerintah Kabupaten Tebo dan aparat keamanan. Perundingan tersebut belum mencapai kesepakatan dan kegiatan pembersihan lahan yang diklaim petani lahan mereka dihentikan.

“Ketika perusahaan hendak memindahkan alat berat ke areal perusahaan melewati Desa Napal Putih, massa langsung menghadang dan membakarnya,” kata Meizani Irmadhiny.

Secara terpisah, Kapolres Tebo, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Zainal Arrahman mengatakan, pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap beberapa orang yang diduga terlibat pembakaran alat berat PT LAJ tersebut.

“Namun kami belum menetapkan adanya tersangka dalam kasus tersebut. Penyelidikan masih terus dilakukan,” katanya.

Mengenai tiga orang karyawan PT LAJ yang sempat ditahan petani, Zainal mengatakan, ketiga karyawan tersebut sudah dibebaskan. Sedangkan barang bukti lima alat berat yang dibakar massa diamankan Polres Tebo.

“Kami juga masih menempatkan puluhan personil bersiaga di lokasi kejadian mencegah terjadinya kembali aksi massa,”katanya.

Menurut Zainal, penyelesaian kasus pembakaran alat berat PT LAJ tersebut dilakukan melalui perundingan antara pihak perusahaan, petani dan pemerintah setempat. Penyelesaian kasus sengketa lahan sekitar ratusan hektare tersebut diupayakan secara musyawarah dan mufakat.(JP-SP)

LEAVE A REPLY