Memahami Inflasi dan Peran Bank Sentral

0
72
ILUSTRASI-Pasar Beduk Tradisi di Bulan Suci Ramadhan. Foto Tribunnews.com

Oleh: Haryo Arief Wicaksono

Inflasi di dalam Masyarakat

Jambipos-Mendengar kata inflasi, pasti kita akan langsung tertuju pada berbagai hal yang buruk, seperti kasus hiperinflasi di Jerman setelah kalah dari Perang Dunia I, inflasi di Venezuela ataupun krisis moneter pada tahun 1998. Melihat contoh-contoh kasus tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa inflasi adalah sesuatu yang buruk. Namun, sebenarnya apa itu inflasi?

Secara sederhana, inflasi adalah kenaikan harga secara umum yang terjadi secara terus menerus pada jangka waktu tertentu. Jadi ketika suatu harga barang naik, namun tidak menyebabkan harga barang lainnya naik, hal itu tidak dapat disebut sebagai inflasi. Inflasi menyebabkan berbagai masalah pada kehidupan di masyarakat, masyarakat akan menjadi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membayar pendidikan, juga untuk menebus biaya kesehatan di rumah sakit.

Badan Pusat Statistik (BPS) akan memantau perkembangan harga di berbagai kota untuk melihat tingkat inflasi yang terjadi. Dengan data tersebut, para pembuat kebijakan dapat mengetahui kebijakan apa yang harus diambil kedepannya.

Sekarang kita telah mengetahui apa itu inflasi, lalu apa sebenarnya yang menyebabkan terjadinya inflasi? Inflasi terjadi ketika pemerintah mencetak uang terlalu banyak, ketika pemerintah mencetak lebih banyak dibandingkan dengan jumlah uang yang dibutuhkan, hal itu menyebabkan nilai uang di negara tersebut melemah.

Sebagai analogi, ketika saat ini sedang musim rambutan, harga rambutan tidak akan semahal saat sedang tidak musim rambutan, hal itu disebabkan karena rambutan dapat ditemukan dimana-mana. Sama seperti uang, ketika uang mudah ditemukan di mana-mana, nilainya akan menjadi lebih rendah. Di Zimbabwe, nilai uang mereka sangatlah rendah, bahkan mereka menggunakan uang mereka sebagai pengganti tissue toilet karena dianggap tissue toilet lebih berharga dibandingkan dengan uang mereka sendiri.

Bank Sentral sebagai Otoritas Moneter

Dalam menjaga kestabilan ekonomi di suatu negara, dibentuklah lembaga independen yang disebut sebagai Bank Sentral. Bank sentral sendiri memiliki fungsi untuk mengawasi sistem perbankan dan mengatur jumlah uang yang beredar di dalam perekonomian. Bank sentral utama di seluruh dunia meliputi The Fed (Bank Sentral) di Amerika, Bank of England, Bank of Japan, dan European Central Bank. Indonesia juga memiliki bank sentral sendiri yaitu Bank Indonesia.

Dalam melaksanakan tugasnya, bank sentral tidak bisa semata-mata menghentikan atau mencetak uang, banyak variabel-variabel yang menentukan kebijakan yang harus di ambil oleh bank sentral. Apakah harus mencetak uang atau mengurangi uang beredar.

Apabila inflasi mudah untuk dijelaskan, mengapa ada negara-negara yang mengalami inflasi yang tinggi? Bukankah seharusnya bank sentral cukup tidak mencetak uang yang terlalu banyak?

Jawabannya karena negara memerlukan uang untuk membiayai belanja negara. Negara perlu membangun pelabuhan, jalan raya, fasilitas kesehatan dan lain-lain. Untuk memenuhi seluruh kebutuhan tersebut, negara perlu mempunyai pendapatan. Negara memperoleh pendapatan dari berbagai sumber, seperti memungut pajak, menjual surat obligasi pemerintah ataupun meminjam dari negara lain. Namun, pemerintah juga dapat memperoleh pendapatan yang paling mudah dengan mencetak uang yang dibutuhkannya.

Ketika pemerintah menambah penghasilan dengan mencetak uang, pemerintah telah melakukan hal yang dinamakan pajak inflasi. Namun, pajak inflasi tidak sama seperti pajak lain karena tidak ada yang menerima tagihan dari pemerintah. Ketika pemerintah mencetak uang, tingkat harga akan naik, dan nilai uang yang kita pegang akan menurun.

Hampir semua hiperinflasi memiliki pola yang sama. Pemerintah memiliki pengeluaran yang tinggi, penerimaan pajak tidak cukup, dan tidak bisa meminjam uang. Akibatnya pemerintah beralih pada pencetakan uang untuk membiayai pengeluaran. Inflasi akan berakhir ketika pemerintah melakukan perbaikan fiskal, seperti mengurangi belanja pemerintah.

Haruskah Bank Sentral Berusaha untuk Mencapai Tingkat Inflasi Nol?

Meskipun stabilitas harga terlihat sangat baik di mata masyarakat, namun ternyata untuk mencapai tingkat inflasi sama dengan nol memerlukan biaya yang sangat tinggi. Salah satu dari sepuluh prinsip ekonomi adalah “Dalam jangka pendek, orang-orang menghadapi masalah trade-off antara inflasi dengan pengangguran”.

Upaya mengurangi inflasi pasti sangat diinginkan apabila tidak perlu mengeluarkan biaya. Namun pada praktiknya, hal ini sulit untuk dilaksanakan. Ketika negara mengurangi tingkat inflasinya, maka dalam jangka pendek, negara mengalami periode dengat tingkat pengangguran yang tinggi.

Ekonom Amerika, Alan Blinder, yang merupakan seorang mantan wakil ketua dewan gubernur The Fed, memberikan pendapat dalam bukunya Hard Heads, Soft Hearts bahwa seringkali para pembuat kebijakan memberikan solusi ekonomi sama seperti pembedahan otak, padahal masalah yang dirasakan hanya seperti sakit kepala. Jadi, Blinder menyimpulkan bahwa akan lebih baik apabila kita belajar untuk hidup dengan tingkat inflasi menengah.(JP-Penulis Adalah Mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN)

LEAVE A REPLY