Sebaiknya Anda Tahu Sejarah Situs Candi Muarojambi Menuju Warisan Budaya Dunia

0
177
Para Bhikku foto bersama dengan latar Candi Gompong di komplek Situs Purbakala Candi Muarojambi yang dijadikan tempat perayaan Hari Suci Waisak 2551 Buddhis Era (BE) tahun 2007 lalu secara nasional. Sekitar 5000 umat Buddha dan 60 orang Bhiku Sangha dari berbagai daerah di Indonesia hadir saat itu. Foto Dok Asenk Lee Saragih

Pemerintah Daerah Lengkapi Fasilitas Pendukung

Jambipos, Muarojambi-Pesona alam dan keunikan serta keajaiban situs purbakala di Komplek Candi Muarojambi di Desa Muarojambi, Kecamatan Marasebo Kabupaten Muarojambi sekitar 40 kilo meter (KM) dari Kota Jambi, mampukah menarik perhatian dunia? Pemerintah Provinsi Jambi terus bermimpi Situs Candi Muarojambi yang mencapai luas lebih 12 KM persegi  menjadi asset serta warisan budaya dunia.

Sejak Pemerintah Pusat menetapkan Komplek Situs Percandian Muarojambi sebagai Kawasan Wisata Sejarah Terpadu (KWST) ditandai dengan penandatanganan Prasasti oleh Presiden RI Ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  di kompleks Candi Muarojambi, September 2011 lalu, Candi Muarojambi mulai berbenah, walau lambat tapi pasti.

Sementara Umat Buddha se Provinsi Jambi dan Pulau Sumatera sudah kali ke tiga berturut-turut. Seperti perayaan Waisak 2563 Buddha Era (BE) yang dipusatkan di situs purbakala Candi Muarojambi, Desa Muarojambi, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, Minggu (19/5/2019). Perayaan Waisak itu dihadiri puluhan orang biksu (pendeta Buddha) dari Tiongkok, Thailand dan Amerika Serikat.

Bahkan Situs Candi Muarojambi yang terletak ditepi Sungai Batanghari, Kecamatan Marasebo , Kabupaten Muarojambi itu merupakan tempat peninggalan purbakala terluas di Indonesia, membentang dari barat ke timur 7,5 kilometer di tepian Sungai Batanghari, dengan luas kurang lebih 12 KM persegi.

Secara Geografis Wilayah Muarojambi sebagian besar berada di daerah aliran Sungai Batanghari. Beberapa abad silam daerah ini sudah dikenal menjadi jalur perdagangan baik antara suku bangsa di nusantara maupun asing seperti China, India, Persia, Arab, Eropa serta negeri-negeri di wilayah Asia Tenggara.

Makara : Bhiksu di Thailand saat meninjau penemuan makara di Candi Kadaton oleh Tim pemugaran Candi Kedaton, komplek Situs Candi Muarojambi, Rabu 10 Agustus 2011 lalu.

Keberadaan situs Muarojambi diketahui untuk pertama kalinya dalam literatur barat dari laporan seorang perwira angkatan laut kerajaan Inggris bernama SC. Crooke pada tahun 1883.

Sementara dengan ditemukan Makara di Candi Kadaton oleh Tim Pemugaran Candi Kedaton menemukan makara pada Rabu 10 Agustus 2011 lalu, banyak mengundang keingin tahuan dari berbagai negara termasuk para Bhiksu.

Makara tersebut saat ditemukan berada dalam timbunan tanah yang biasa disebut menapo. Kondisi dua makara yang ditemukan relatif utuh dan masih berada pada konteks bangunan yang berupa reruntuhan bata.

Secara tidak sengaja para pekerja pemugaran di Candi Kedaton, Selasa 16 Agustus 2011 lalu kembali menemukan sebuah makara di menapo kompleks Candi Kedaton. Arca tersebut ditemukan dalam posisi miring ke kiri diantara tumpukan bebatuan menapo.

Penemuan makara di Candi Kadaton, membuat nama komplek Percandian Muarojambi semakin banyak dikunjungi orang, bahkan banyak dikunjungi para Bhiksu dan jurnalis luar negeri.

Bhiksu Sasana Bodhi dari Gunung Kidul, Yogyakarta (Jateng) serta pengurus Vihara Sakyakirti Jambi, Rabu, 31 Agustus 2011  mengunjungi Candi Kadaton untuk melihat langsung penemuan tiga makara itu. Dugaan Bhiksu Sasana Bodhi, manapo tersebut terdapat empat penjuru. Manapo ini ada empat penjuru, pintu gerbangnya berada di Timur.

Selain mengunjungi Candi Kadaton, Bhiksu Sasana Bodhi juga menyempatkan diri mengunjungi Candi Tinggi I, Candi Tinggi II dan Candi Gumpung. Di beberapa Candi itu Bhiksu Sasana Bodhi berhenti. Menerawang disusul kemudian tangannya menengadah rendah, pada kesempatan itu Bhiksu Sasana Bodhi melakukan meditasi.

Makara di gapura Candi Kedaton, merupakan temuan yang tidak lazim, karena makara pada umumnya ditemukan pada tangga-tangga masuk menuju bangunan induk candi.

“Temuan seperti ini terjadi ada Candi Gumpung. Salah satu makara masih menempel pada tangga masuk candi hingga kini. Temuan kali ini tidak lazim, karena makaranya menempel di gapura, bukan di tangga masuk,”katanya.

Presiden SBY beserta Ibu Ani Yudhoyono (Alm) saat berkunjung ke Candi Muarojambi saat Pemerintah Pusat menetapkan Komplek Situs Percandian Muarojambi sebagai Kawasan Wisata Sejarah Terpadu (KWST) ditandai dengan penandatanganan Prasasti oleh Presiden RI Ke-6, SBY di kompleks Candi Muarojambi, September 2011 lalu. Foto Dok Asenk Lee Saragih

Sementara menurut analisa dari ahli arkeologi, Bambang Budi Utomo dan Ir  Hudaya Kandahjaya, bahwa dugaan yang tertulis disalah satu makara nama Mpu Kusuma. Sedangkan ungkapan di depan nama ini, bisa dibaca Pamurwitanira, artinya: tempat sirnanya sesepuh.

Dengan kata lain ini rupanya tempat memperingati kepergian sesepuh bernama Mpu Kusuma. Untuk waktunya sekitar tahun 1017 (tahun Saka), atau kira-kira tahun (1017 + 78 =) 1095 Masehi.

Liputan Menarik Jurnalis Luar Negeri

Situs Candi Muarojambi juga sudah mulai diliput oleh media Luar Negeri seperti Jurnalis dari CCTV (China), Taiwan Macroview TV (Taiwan) dan Metro TV (Indonesia) Selasa pada 6 September 2011 lalu.

Rombongan rombongan mengunjungi Candi Muarojambi dan menyempatkan diri bertandang ke Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi. Jurnalis luar negeri tersebut menelusuri komplek percadian yang dinyakini sebagai pusat Agama Budha di Sumatera.

Sebelumnya juga situs purbakala kebanggaan masyarakat Provinsi Jambi, yakni situs Candi Muarojambi juga dikunjungi oleh Bhikkhu asal Bhutan, Rinpoche Ngagpa Thsering Dendup beserta rombongan, Sabtu (3/9/2011) lalu. Candi Muarojambi merupakan satu-satunya peninggalan sejarah yang cukup terkenal bahkan terbesar di Asia Tenggara.

Rinpoche Ngagpa Thsering Dendup mengaku sangat tertarik untuk melihat situs tersebut secara dekat, yang berada di areal Candi Muarojambi luasnya lebih besar dari Candi Borobudur.

“Saya pernah ke sini, makanya keinginan kembali melihat penemuan Makara di Candi Kadaton. Saya sudah keliling candid an ingin melihat makara yang ditemukan tim Ekskavasi (Pemugaran) Candi Kedaton,”katanya.

Rinpoche Ngagpa Thsering Dendup menjelaskan bahwa keberadaan Candi Muaro Jambi ini merupakan salah satu bukti bahwa, banyak sekali benda peninggalan sejarah yang terdapat di Provinsi Jambi.

Selain melihat makara di Candi Kadaton, Rinpoche Ngagpa Thsering Dendup juga melakukan ritual sembahyang, Gelar Pradaksina. Ritual ini dilakukannya sebagai salah bentuk penghormatan kepada candi yang dianggap sebagai salah satu benda suci.

Rinpoche juga meninjau Gedung Museum Candi Muarojambi, serta melepaskan ratusan ekor burung yang dikenal fang shen.

Bhiksu Rinpoche asal Singapura bersama rombongan melakukan ritual pelepasan burung sebagai tanda adanya harapan kehidupan baik di masa mendatang di Candi Muarojambi, Desa Muarojambi, Kecamatan Marosebo Ulu, Kabupaten Muarojambi, sekitar 45 Km dari Kota Jambi.

Bhiksu Thailand, Bante Sujid juga membuat penasaran terkait dengan penemuan dua makara atau arca batu yang ditemukan pekerja pemugaran Candi Kedaton di kompleks Situs Candi Muaro Jambi.

Dirinya benar-benar mampu menggugah rasa ingin tahu masyarakat terhadap sejarah benda kuno. Masyarakat juga antusias melihat dari dekat dua makara yang berdiri tegak di antara anak tangga di candi tersebut.

Menurut Bante Sujid saat itu, bentuk makara menyerupai ular besar dan kepala kambing. Dengan seksama, Bante Sujid menjelaskan alasan ‘menangkap’ makara menyerupai kepala kambing di mulut ular.

Di bawah ada tonjolan batu kecil menyerupai kepala kambing, kemudian ada kesan mulut menganga ular besar berikut gigi ular.

Struktur tangga andesit, Bante Sujid memperkirakan di atas ada hamparan yang bisa saja untuk beribadah atau singgasana. Bante Sujid bercerita bahwa begitu mengetahui ada penemuan makara, langsung mengontak para Bhiksu di Thailand.

Saat itu Bante Sujid menjalani masa wasa ini di Vihara Maha Citiya Oenang Hermawan Jambi. Respon Bhiksu di Thailand senang mendengar kabar atas penemuan makara tersebut. Bhiksu dari Thailand khusus datang pada Desember 2011 lalu ke Candi Kedaton untuk melihat langsung semuanya.

Saat itu Gubernur Jambi Hasan Basri Agus mengatakan, dirinya menyaksikan langsung makara itu dan meminta informasi ini disebarkan luas bahwa kita mempunyai potensi budaya yang cukup besar pada saat ini.

Disebutkan, dengan adanya beberapa temuan yang dua di antaranya adalah makara bisa menjadi petunjuk sejarah di perkembangan agama di Jambi, khususnya Budha. Terlebih kaitannya dengan kian giatnya Pemerintah Provinsi Jambi untuk mendaftarkan Situs Candi Muarojambi sebagai salah satu warisan budaya dunia.

“Hal ini semakin membuktikan bahwa lokasi Candi Muarojambi merupakan lokasi yang cukup strategis bagi perkembangan agama Budha saat itu. Kompleks Candi Muarojambi sebagai sebuat lembaga pendidikan atau kampus. Hal itu didasarkan atas beberapa penelitian terdahulu dan berdasarkan dokumen yang ada,”katanya.

Bhiksu Rinpoche asal Singapura mengelilingi kawasan Candi Muarojambi, Desa Muarojambi, Kecamatan Marosebo Ulu, Kabupaten Muarojambi, sekitar 45 Km dari Kota Jambi.

Dengan adanya temuan-temuan dari pemugaran ini, maka semakin memperkaya kepemilikan candi di Situs Candi Muarojambi. “Jika selama ini bagian kompleks Candi Gumpung dan Candi Tinggi sebagai Candi Induk, maka dengan temuan ini bisa jadi menjadi yang lebih besar,”katanya.

Disebutkan, pemugaran kompleks Candi Muarojambi, khususnya Candi Kedaton ini dibiayai dari dana APBN. Kendati demikian, Pemerintah Provinsi Jambi berkewajiban untuk mengamankan proses tersebut. Terlebih dengan adanya temuan bersejarah yang diperkirakan merupakan tinggalan Abad VII-XIII sesuai catatan diketemukan Situs Candi Muarojambi.

“Guna memajukan sektor wisata di Jambi, perlu dilakukan renovasi peninggalan sejarah itu. Situs Muarojambi diperkirakan berasal dari Abad 9-14, rentan waktu masa kejayaan Raja Sriwijaya dan Melayu Kuno,”katanya.

Saat ini telah ditemukan 83 candi termasuk benteng dan sungai yang mengelilinginya. Selain itu ada juga gundukan tanah (menapo), patung Prajnaparamita. Para ahli menduga bahwa situs itu adalah komplek peribadatan agama Buddha yang terluas di Nusantara.

Obyek Wisata Etnis Tionghoa

Sementara itu ribuan warga etnis Tionghoa di Jambi yang menganut agama Buddha menjadikan Candi Muarojambi sebagai lambang sejarah dan bukti adanya penyebaran agama Buddha di Provinsi Jambi. Candi Muarojambi punya arti penting bagi Etnis Tionghoa Jambi.

Tokoh masyarakat etnis Tionghoa Jambi, Darman Wijaya mengatakan, Candi Muarojambi menjadi salah satu peninggalan sejarah kebanggaan masyarakat Jambi, khussnya etnis Tionghoa.

Bahkan situs purbakala dijadikan tempat perayaan Hari Suci Waisak 2551 Buddhis Era (BE) tahun 2007 secara nasional. Sekitar 5000 umat Buddha dan 60 orang Bhiku Sangha dari berbagai daerah di Indonesia hadir saat itu.

Dipilihnya Candi Muarojambi sebagai pusat pelaksanaan Waisak, menjadi kebanggaan tersendiri bagi etnis Tinghoa Jambi.

Sementara seorang Tokoh Masyarakat Etnis Tionghoa di Jambi, Rahmat Hidayat mengatakan, Situs Komplek Candi Muarojambi harus dirawat bersama. Dia juga berharap agar komplek Situs Candi Muarojambi bisa menjadi warisan budaya dunia kedepan. Semoga. (JP-Asenk Lee Saragih)

Berita Terkait

Baca: H+2 Idul Fitri 1440 H, Pengunjung Candi Muarojambi Capai 2500 Orang

Baca: Libur Idul Fitri 1440 H, Enaknya Bersepeda Menikmati Alam Sekitar Candi Muarojambi

Baca: Semarak Lebaran Idul Fitri 1440 H di Festival Solidaritas Candi Muarojambi
Baca: Melihat Perayaan Waisak di Candi Muarojambi
Baca: H Ivan Wirata Serap Aspirasi Masyarakat Desa Muarojambi Soal Parkir dan UMKM

Moses Juneri Manihuruk dan Ezer Twopama Manihuruk berkunjung ke Candi Muarojambi, Kamis 6 Juni 2019. Foto Asenk Lee Saragih
KELILING: Moses Juneri Manihuruk dan Ezer Twopama Manihuruk berpose dengan latar Candi Gompong di komplek Situs Purbakala Candi Muarojambi, Kamis 6 Juni 2019. Dengan naik sepeda atau jalan kaki, pengunjung bisa keliling Candi Gumpung, Candi Tinggi, Kembar Batu, Candi Astano, Candi Gedong I dan II, Candi Kedaton, Candi Koto Mahligai dan candi-candi lainya. Foto Asenk Lee Saragih

LEAVE A REPLY