Menjadi Pemimpin bagi Diri Sendiri

0
207
ILUSTRASI-Capres petahana Joko Widodo dan cawapres Ma'ruf Amin menyapa warga usai menyampaikan pidato kemenangannya sebagai Presiden Republik Indonesia periode 2019-2024 di Kampung Deret, Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, Selasa (21/5/2019). Pidato tersebut menanggapi keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menetapkan pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin sebagai pemenang Pilpres 2019. ( Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/foc )

Oleh: Novrenti Yosephine Br. Perangin-angin

Jambipos-Setiap orang yang sukses, yang telah melakukan pencapaian, yang mampu menginspirasi orang lain, dalam hidupnya pasti mempunyai mindset yang dapat membantu mereka untuk memperoleh keberhasilan tersebut.

Ketika diberikan tanggung jawab besar, tidak semua orang mampu mengemban tanggung jawab tersebut dengan komitmen yang sungguh-sungguh sampai akhir. Sebagian berkomitmen sampai akhir tetapi tidak totalitas, sebagian berkomitmen tetapi berhenti di tengah proses, sebagian bahkan tidak berani berkomitmen.

Kita pasti pernah mempunyai pemikiran kalau kemampuan kita belum cukup baik untuk tanggung jawab sebesar itu, kekhawatiran akan kritikan dari orang lain, kegagalan masa lalu yang membuat kita ragu mencoba lagi, atau pemikiran-pemikiran pesimistis lain yang terkesan menghalangi kita untuk maju.

Di dunia ini, kesempatan datang kepada siapa saja. Yang kaya dan yang miskin, yang tua dan yang muda, yang sarjana dan yang lulusan SMA. Lalu mengapa bisa ada orang yang sukses dan ada yang gagal? Karena kesempatan itu hadir dalam bentuk yang berbeda-beda untuk setiap orang.

Ada orang yang melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi, tetapi sering kali orang-orang melihat kegagalan sebagai sesuatu yang harus ditakuti, diingat terus-menerus, dan kegagalan adalah akhir segalanya.

Ada yang sadar bahwa apa yang mereka miliki adalah kesempatan yang dapat dieksplorasi lebih dalam lagi  tetapi ada juga yang tidak sadar akan potensi yang dimiliki dirinya sendiri dan malah membiarkan kesempatan itu lewat tanpa sempat dimanfaatkan.

Dalam menjalani hidup, kita seharusnya tidak pernah berpikiran akan ada saat bagi kita untuk sudah cukup ‘belajar’, kita seharusnya berpikir bahwa sampai kapanpun manusia tidak akan pernah menjadi sangat cerdas sampai-sampai tidak perlu belajar apapun lagi.

Sebuah kutipan mengatakan, apabila ada seseorang yang mengajukan pertanyaan, maka ia bodoh sampai kepada waktu dia bertanya saja. Tetapi apabila seseorang tidak bertanya, maka ia bodoh sampai seumur hidupnya.

Setiap orang setidaknya harus punya kemampuan dan kapabilitas untuk memimpin. Minimal dalam hal memimpin dirinya sendiri. Bagaimana seseorang bisa menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri?

Menurut saya, yang pertama kali harus dilakukan agar seseorang mampu menjadi pemimpin bagi diri sendiri adalah, bahwa seseorang harus sadar akan betapa besar tanggung jawab yang dimilikinya atas dirinya sendiri, bahwa tidak akan ada orang lain yang akan melakukan hal itu untuknya selain dirinya sendiri, bahwa harus dirinya sendiri lah yang memulai agar ia bisa berubah.

Seseorang harus benar-benar paham tentang dirinya sendiri, tidak ada yang orang lain yang boleh lebih paham tentang dirinya daripada orang itu sendiri. Apa yang diinginkannya, apa yang memotivasi dirinya, apa yang menjadi tujuannya, dia harus bisa dengan yakin mengatakan hal-hal tersebut atas dasar keyakinannya sendiri.

Hal yang kedua adalah bahwa kesadaran dalam diri itu tadi harus diikuti dengab disiplin diri. Rasa termotivasi usai membaca artikel ini, misalnya, tidak akan bisa kita ingat selamanya dalam kehidupan sehari-hari kita, kita harusnya punya disiplin diri sebagai penggerak untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Kata-kata motivasi, kutipan-kutipan terkenal , kisah-kisah inspirasi hanya bersifat sementara, yang permanen berasal dari dalam diri kita sendiri.

Disiplin yang dapat membawa kita ke tujuan, yang tetap meyakinkan kita untuk terus berusaha, yang akan mengatasi perasaan jenuh jika hasil tak kunjung terlihat, yang meyakinkan kita bahwa meski jalan masih panjang tetapi kita sudah jauh dari titik awal.

Namun juga, ada perkataan dari filsuf Epictetus, yaitu “Don’t explain your philosophy, embody it.” Dimana artinya adalah kita tidak perlu panjang lebar menjelaskan prinsip hidup yang kita yakini kepada orang lain, kita hanya perlu menjadi seperti apa yang kita yakini.

Hal ketiga dan terakhir adalah aksi yang nyata dari diri kita. Bahwa tantangan adalah hal yang membuat hidup ini menjadi menarik, tetapi dalam hal kita melampaui tantangan tersebut adalah hal yang membuat hidup kita memiliki makna.(JP-Penulis Politeknik Keuangan Negara STAN-humas.baak@pknstan.ac.id)

LEAVE A REPLY