Cryptocurrency Sebagai Alternatif Mata Uang Fiat

0
108
ILUSTRASI-Free-Royalty-Crypto.

Oleh: M. Jauhar Pratama

Jambipos-Kemajuan teknologi adalah suatu keniscayaan. Di dunia saat ini, manusia tidak dapat hidup tanpa adanya teknologi. Teknologi secara perlahan telah mengambil bagian penting dalam kehidupan sehari-hari dan hidup tanpa mereka akan menjadi sesuatu yang tak terbayangkan bagi sebagian dari kita.

Pernahkah terbayangkan oleh kita dulu, bahwa di masa depan kita tidak harus lagi memegang uang untuk membeli sesuatu. Kita pun tidak lagi harus pergi ke Bank untuk membuat rekening. Sekarang semua itu dapat dilakukan dengan mudah dengan adanya teknologi keuangan atau yang kita kenal dengan Financial Technology (Fintech).

Fintech adalah sebuah industri yang mencakup segala jenis teknologi dalam layanan keuangan yang digunakan untuk membantu perusahaan, pelaku bisnis, dan konsumen untuk mengelola operasi keuangan yang lebih baik dengan menggunakan perangkat lunak dan algoritma khusus. Salah satu produk dari fintech tersebut adalah Cryptocurrency.

Apa itu Cryptocurrency?

Cryptocurrency berasal dari kata kriptografi dan mata uang. Singkatnya, cryptocurrency adalah mata uang digital atau virtual yang bergantung pada enkripsi dan kriptografi dalam sistem keamanannya. Sebagian besar cryptocurrency menggunakan sistem terdesentralisasi berdasarkan pada teknologi blockchain, yaitu sebuah buku besar terdistribusi yang dijalankan oleh jaringan komputer yang berbeda-beda.

Cryptocurrency atau mata uang kripto adalah bentuk pembayaran alternatif dari uang tunai, kartu kredit, dan cek. Teknologi blockchain di baliknya memungkinkan kita untuk mengirim uang langsung ke orang lain tanpa melalui pihak ketiga seperti bank. Dengan kata lain, mata uang kripto ini seperti sistem akuntansi virtual.

Dimana mereka mencatat semua transaksi, lalu transaksi tersebut dibundel ke dalam blok-blok, lalu ditandatangani secara kriptografi. Sifat utama dari uang kripto dan bisa dibilang daya tarik terbesarnya adalah sifat organiknya, yaitu tidak adanya bank sentral maupun institusi finansial yang menaungi mata uang tersebut, sehingga secara teori menjadikannya kebal terhadap campur tangan atau manipulasi pemerintah.

Mata uang kripto berbasis blockchain pertama adalah Bitcoin yang didiciptakan pada tahun 2009 oleh Satoshi Nakamoto. Satoshi Nakamoto sendiri merupakan nama fiktif atau alias seorang yang identitasnya masih belum terungkap sampai saat ini.

Pada saat ini, umumnya sebagian besar mata uang kripto muncul dan diciptakan sebagai aset digital yang diperdagangkan layaknya investasi saham atau reksa dana. Berdasarkan data dari CoinMarketCap, sampai saat ini ada ribuan mata uang kripto yang diperdagangkan dan memiliki nilai kapitalisasi pasar sebesar US$ 268,02 miliar atau setara Rp3.849,87 triliun. Bitcoin, sebagai pelopor mata uang kripto, memiliki nilai kapitalisasi pasar terbesar dengan US$ 153,98 miliar atau setara Rp2.211,78 triliun per Mei 2019 atau 57.5% dari total kapitalisasi pasar mata uang kripto.

Mata Uang Fiat dan Sejarah Kelamnya

Mata uang fiat adalah mata uang tanpa nilai intrinsik yang ditetapkan sebagai uang dan alat pembayaran yang sah oleh peraturan pemerintah. Menurut anggota senior terkemuka di bidang Hukum Konstitusi dan Moneter Amerika Serikat (AS), Edwin Viera Jr. mengatakan bahwa setiap 30 hingga 40 tahun sistem moneter yang berkuasa, gagal dan harus disusun kembali.

Kasus terakhir di AS adalah Guncangan Nixon pada tahun 1971, ketika Presiden AS kala itu Richard Nixon membatalkan konvertibilitas dolar AS terhadap emas pada kebijakan ekonominya. Kala itu dunia pun masih menerima dolar AS yang tidak lagi dijamin emas sebagai reserve currency atau mata uang cadangan.

Namun sejak ditinggalkannya standar emas ini, krisis ekonomi semakin kerap terjadi. Krisis tahun 1970-1980 di AS, Chili (1982), Jepang (1992), Mexico (1994), Brazil (1994-1996), Asia (1997), Russia (1998), Argentina (1999-2002), Krisis Global (2007-2009) dan terakhir di Portugal, Ukrania, Venezuela, Turki dan banyak lainnya.

Michael G. Pento dalam bukunya ‘The Coming Bond Market Collapse’: menurut sebuah penelitian terhadap 775 mata uang fiat oleh DollarDaze.org, tidak ada catatan historis untuk mata uang fiat yang telah berhasil mempertahankan nilainya. Sebaliknya, dua puluh persen dari 775 mata uang fiat gagal oleh hiperinflasi, 21% dihancurkan oleh perang, 12% dihancurkan oleh kemerdekaan, 24% direformasi secara moneter, dan 23% masih bertahan namun mendekati hasil lainnya. Harapan hidup rata-rata untuk mata uang fiat adalah 27 tahun, dengan rentang hidup terpendek satu bulan.

Diciptakan pada tahun 1694, Pound sterling Inggris adalah mata uang fiat tertua yang ada saat ini. Dengan usianya yang sudah 325 tahun, maka bisa dianggap sebagai mata uang paling sukses. Namun, tentu kesuksesan harus diukur dengan skala yang relatif.

Dalam sejarahnya, saat pound sterling berlaku sebagai uang logam keras, ia didefinisikan sebagai 12 ons perak. Mata uang cadangan yang pernah dibanggakan di dunia ini, sekarang bernilai kurang dari 1/154 atau 0,65% dari nilai aslinya. Dengan kata lain, mata uang terlama dan paling sukses yang ada saat ini, telah kehilangan hampir 99,5% dari nilainya.

Mata uang fiat bisa hidup dan bernafas pada nilai yang kita percayai. Jika orang di seluruh dunia setuju bahwa uang kertas 1 dolar setara dengan yang tertulis di atas kertas, maka ekonomi pasar dan sistem fiat harusnya berfungsi dengan baik. Namun apa yang terjadi jika misalnya sebagian populasi dunia dikeluarkan dari sistem ini?

Menurut data Global Findex Bank Dunia Tahun 2017, bahwa sekitar 1,7 miliar orang dewasa di dunia tidak memiliki rekening bank atau akses ke lembaga keuangan melalui ponsel, atau perangkat lain apa pun. Lalu apa yang akan terjadi pada 1,7 miliar orang atau 25% populasi dunia itu?

Yang akan terjadi adalah mereka mengelola alat penyimpan nilai mereka sendiri, baik itu uang kertas atau alat tukar lainnya, sehingga tidak menghasilkan bunga. Ketika kita tidak mendapatkan bunga seperti dalam sistem fiat dengan cara menyetor ke bank, maka uang kita kehilangan nilainya setiap hari karena inflasi.

Ketika uang kita kehilangan nilai dengan cepat, kita ingin menghabiskannya dengan cepat atau menukarnya dengan mata uang lain. Dalam situasi itu, sistem fiat melemah karena kurangnya tabungan dan kurangnya kepercayaan pada mata uang fiat.

Cadangan Perbankan Fraksional dan Ekonomi Berbasis Utang

Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Rochadi pernah mengatakan “Uang itu kan utang, kita percaya kan kita punya barang kemudian ditukar dengan uang selembar kertas, kita percaya ada yang jamin itu.”  Pada dasarnya sebagian besar uang dalam sistem ekonomi modern diciptakan oleh bank-bank komersil melalui penyaluran pinjaman atau kredit kepada nasabah.

Sistem perbankan dengan cadangan fraksional menciptakan uang, namun tidak menciptakan kekayaan. Pinjaman bank (Bank Loan) memberikan kepada peminjam sejumlah uang baru yang berarti sama dengan utang baru. Sistem ini menjadikan bank sentral berada di rantai atas percetakan uang, lalu mengalirkannya ke bank-bank komersil hingga akhirnya sampai ke konsumen.

Kenyataan ini menggambarkan bahwa sistem fiat saat ini layaknya vicious circle yang berputar dengan cara menciptakan lebih banyak utang untuk terus menumbuhkan ekonomi global. Lalu apakah ada alternatif yang mampu memberikan inovasi dan warna baru terhadap sistem moneter yang telah ada dari abad ke-17 ini?

Ini membawa kita ke cryptocurrency. Berbeda dengan uang fiat dan cadangan perbankan fraksional, cryptocurrency tidak dapat dimanipulasi oleh pemerintah mana pun. Cryptocurrency memiliki jumlah uang beredar yang tetap dan disimpan di dalam jaringan yang terdesentralisasi, dan blockchain yang tidak dapat ditutup oleh pemerintah atau institusi apapun tanpa mematikan internet itu sendiri. Pertanyaannya, apakah ini alternatif yang nyata untuk uang fiat?

Cryptocurrency dan Masa Depan

Secara historis, cryptocurrency telah mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Lika-liku dan spekulasi terjadi sejak diluncurkannya cryptocurrency pertama yaitu Bitcoin, tepat setelah krisis ekonomi global pada tahun 2009. Bitcoin dan blockchain dinilai sebagai terobosan baru di dunia keuangan.

Setiap terobosan baru suatu teknologi tentu akan mengalami berbagai tantangan dan rintangan yang berat. Pada awal 2014, Mt Gox, bursa Bitcoin yang berbasis di Jepang, pada saat itu menangani lebih dari 70% dari semua transaksi bitcoin di seluruh dunia menjadi korban peretasan. Akibat kejadian ini, kerugian yang dialami sebesar 850.000 bitcoin atau setara dengan US$ 450 juta. Terakhir, pada Mei 2019, Binance, sebuah exchange mata uang virtual terbesar saat ini, kehilangan sekitar 7000 bitcoin atau setara dengan US$ 40 juta.

Terlepas dari semua rintangan yang ada, cryptocurrency terus berbenah dan berkembang. Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Christine Lagarde, dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa keberadaan crypto mengguncang sistem yang ada. Ia pun menambahkan bahwa mereka tidak menginginkan inovasi yang akan mengganggu stabilitas yang dibutuhkan. Secara tidak langsung ini mengisyaratkan bahwa bukan tidak mungkin crypto bisa menggantikan peran bank sentral dan perbankan internasional di masa depan.

Tantangan Bagi Cryptocurrency

Agar cryptocurrency menjadi alternatif serius dan dapat bersaing dengan uang fiat, terdapat beberapa hal-hal yang yang perlu diperhatikan. Pertama, yaitu adanya regulasi. Langkah awal yang penting adalah sebagian besar pemerintah harus menerima crypto sebagai instrumen keuangan dan diakui nilainya. Para pengembang cryptocurrency pun diharapkan mampu melakukan langkah-langkah proaktif. Seperti meminimalkan risiko penggunaannya untuk pencucian uang, tindak kriminal, narkoba dan lainnya.

Kedua, yaitu stabilitas. Meskipun uang fiat tidak lagi dijamin oleh emas, perak atau komoditas lainnya, risiko ini relatif kecil karena dolar AS misalnya, adalah mata uang yang stabil. Di sisi lain, cryptocurrency sangatlah fluktuatif. Nilai bitcoin bisa naik dan turun secara drastis dalam hitungan hari, jam, bahkan menit. Stabilitas dibutuhkan untuk menciptakan kepercayaan, dan kepercayaan diperlukan agar crypto dapat diadopsi secara luas.

Ketiga, yaitu eksklusivitas. Salah satu masalah paling besar cryptocurrency adalah kurangnya pemahaman di kalangan masyarakat. Bagaimana seseorang diharapkan mempercayai sesuatu yang tidak mereka pahami? Orang takut akan hal-hal yang tidak mereka ketahui, atau tidak pasti, sehingga menyebabkan orang menolak perubahan. Namun sama halnya dengan komputer, internet, dan smartphone yang telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, bukan tidak mungkin bahwa cryptocurrency pun akan menjadi bagian dari itu.

Kita hidup di dunia dimana semua serba digital, tidak terkecuali uang. Uang fiat dibangun dari sistem yang digagas oleh Keluarga Medici di abad ke-14 dan terus mendapat rintangan seiiring dengan perkembangan zaman. Disisi lain, cryptocurrency adalah sesuatu yang baru dan disambut sebagai inovasi yang diharapkan mampu menjawab ketidakpuasan orang-orang atas sistem yang ada. Lalu mampukah crypto menjawabnya? Waktulah yang akan menentukan.(JP-Penulis Adalah Mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN)

LEAVE A REPLY