Bagaimana jika Maskapai Asing Masuk Industri Penerbangan Domestik Indonesia?

0
108
ILUSTRASI-Maskapai Asing. Google

Oleh: Donna Juniyanto

Jambipos-Baru-baru ini sedang ramai dibahas mengenai wacana Presiden Joko Widodo mengundang  maskapai asing masuk ke industri penerbangan Indonesia. Wacana ini muncul karena banyak keluhan dari masyarakat mengenai harga tiket pesawat domestik yang mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Seperti yang kita ketahui Indonesia merupakan negara sangat luas dan terdiri dari banyak kepulauan dari sabang sampai merauke. Transportasi udara lebih dipilih karena memakan waktu yang lebih cepat dibandingkan transportasi laut dan darat.

Naiknya harga tiket pesawat akan berimbas pada mobilitas seseorang, orang akan berpikir dua kali untuk berpergian menggunakan pesawat. Mobilitas yang terbatas akan memicu penurunan kegiatan ekonomi, terutama ekonomi daerah yang mengandalkan sektor pariwisata sebagai pendapatan utamanya.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penumpang domestik angkutan udara pada triwulan I secara kumulatif mengalami penurunan sebesar 17,6 %. Jumlah penumpang angkutan udara per Maret mengalami penurunan pada dua tahun terakhir, dimana pada tahun 2019 berjumlah 6,03 juta sedangkan untuk tahun 2018 dan 2017 sebanyak 7,73 juta dan 6,93 juta penumpang.

Sementara untuk jumlah penumpang internasional angkutan udara sebesar 1,55 juta mengalami peningkatan baik secara kumulatif maupun per periode bulan yang sama dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Menanggapi kenaikan harga tiket pesawat pemerintah melalui Kemenhub telah mengeluarkan kebijakan  menurunkan tarif batas atas sebesar 16% untuk penerbangan di Indonesia,  namun tetap saja harga tiket pesawat masih terasa mahal. Jika kita coba untuk mengecek harga tiket pesawat di situs pembelian tiket online kita akan menemukan harga penerbangan domestik lebih mahal dari pada harga penerbangan internasional.

Sebagai contoh harga tiket Jakarta-Singapura harga tiket termurah sekitar 700 ribu sedangkan Jakarta-Medan harga tiket termurah sekitar 1,5 juta. Kondisi ini membuat masyarakat lebih memilih untuk berpergian ke luar negeri daripada di Indonesia.

Seperti yang kita ketahui sejak Garuda Indonesia Group mengambil alih operasional Sriwijaya Air dan Nam Air November 2018 silam, penerbangan domestik di Indonesia didominasi oleh dua grup besar yaitu Garuda Indonesia Group (Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya Air, dan Nam Air) dan Lion Group (Lion Air, Batik Air, dan Wings Air). Walaupun sebenarnya masih Indonesia Air Asia, namum maskapai ini hanya melayani sedikit rute penerbangan domestik di Indonesia.

Kondisi ini akan sangat berpotensi membuat terjadinya persaingan tidak sempurna di pasar angkutan udara. Maskapai memiliki kekuatan yang besar untuk mengendalikan harga yang mengakibatkan mekanisme pembentukan harga di pasar tidak mengikuti hukum penawaran-permintaan. Terlebih di negara kepulauan seperti Indonesia, dimana kebutuhan angkutan udara memiliki peranan penting.

Bagaimana jika maskapai penerbangan asing masuk ke industri penerbangan domestik Indonesia?

Mengenai boleh atau tidaknya maskapai asing masuk di industri penerbangan domestik Indonesia Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menerangkan bahwa maskapai penerbangan asing bisa saja masuk ke industri penerbangan domestik Indonesia, dengan syarat membangun perusahaan di Indonesia dengan komposisi kepemilikan 49 persen asing dan 51 persen nasional.

Selain itu rute yang di tempuh tidak hanya rute gemuk tetapi harus melayani rute perintis khususnya ke daerah-daerah pariwisata. Contoh maskapai penerbangan asing yang sudah melayani rute domestik adalah Air Asia, yang mendirikan PT Indonesia AirAsia dengan kepemilikan saham 51 persen nasional dan 49 persen asing.

Masuknya maskapai penerbangan asing ke industri penerbangan domestik Indonesia akan akan meningkatkan persaingan antar maskapai penerbangan. Semakin banyak maskapai di pasar penerbangan domestik Indonesia akan memperkecil kemungkinan terjadinya praktik kartel dan pengaturan harga, yang mengakibatkan mekanisme pembentukan harga akan mengikuti hukum penawaran-permintaan.

Selain itu masuknya penerbangan asing juga dapat meningkatkan efisiensi setiap maskapai. Efisiensi dilakukan untuk menekan biaya-biaya operasional, hal yang bisa dilakukan seperti menekan biaya operasional bandara dengan menambah jam mengudara per hari yang berarti beban penerbangan dari parkir bandara dapat dikurangi.

Penggunaan satu tipe pesawat juga dapat mengurangi biaya operasional sehingga pilot, pramugari, pramugara, dan mekanik hanya membutuhkan satu jenis pelatihan saja. Efisiensi ini  akan berimbas terhadap pada penurunan harga tiket pesawat

Tidak hanya terjadi persaingan harga, masuknya maskapai asing ke industri penerbangan domestic Indonesia akan mendorong maskapai penerbangani untuk berkompetisi dalam memberikan pelayanan yang terbaik.

Pelayanan yang diberikan maskapai berkaitan langsung dengan kepuasan pelanggan. Semakin baik kulitas layanan yang diberikan semakin tinggi tingkat kepuasan pelanggan. Ada beberapa variabel yang dapat mengukur kepuasan pelanggan dalam maskapai penerbangan seperti ruang gerak kaki, kenyamanan kursi, hiburan, pelayanan, Pengalaman dalam kabin pesawat, harga, kebersihan, kemudahan check in & boarding dan makanan.

Keuntungan lain dari masuknya maskapai asing ke Indonesia adalah tersedianya lapangan kerja baru. Ketika perusahaan membangun perusahaan baru, sudah pasti mereka akan membutuhkan karyawan baru untuk menjalankan perusahaan tersebut. Secara tidak langsung maskapai asing ke Indonesia ikut mengurangi tingkat penganguran di Indonesia.

Di sisi lain hadirnya maskapai asing tentu akan merugikan maskapai penerbangan dalam negeri. Maskapai dalam negeri akan berbagi penerbangan dengan maskapai asing terutama rute gemuk, yang berarti akan ada penurunan pendapatan bagi maskapai dalam negeri.

Maskapai asing diuntungkan dengan bisa lebih mudah mendapatkan modal dan pembiayaan karena adanya perbedaan suku bunga antara negara luar dengan Indonesia. Selain itu maskapai asing diuntungkan dengan kurs yang lebih rendah, biaya operasional maskapai penerbangan  seperti harga pesawat, harga avture, sparepart, dan maintenance menggunakan tarif dollar.

Melihat kurs rupiah yang tinggi, harga yang ditawarkan maskapai asing akan lebih kompetitif. Ketika maskapai dalam negeri tidak bisa bersaing dengan maskapai asing dikhawatirkan akan mematikan keberlangsungan maskapai dalam negeri tersebut. Penting bagi maskapai dalam negeri untuk menciptakan pelayanan yang bekuaitas dan selalu kreatif dalam memunculkan terobosan-terobosan baru.

Kontrol terhadap maskapai asing di masa mendatang juga menjadi tantangan bagi pemerintah. Belajar dari industri perbankan, ketika pemerintah membuka celah kepemilikan asing secara mayoritas pada bank nasional.

Alih-alih menghindari bailout bank nasional yang bermasalah, pemodal asing justru banyak yang menguasai bank-bank nasional. Sehinga banyak uang Indonesia yang lari ke pemodal asing

Wacana mengundang maskapai asing masuk Indonesia memang memiliki dampak positif dan negatif. Terkait wacana ini akan terealisasi atau tidak, diharapkan pemerintah dapat mengambil langkah terbaik dalam menghadapi setiap masalah yang di hadapi Indonesia. Jangan sampai kita menjadi tamu di rumah sendiri dan merugikan rakyat Indonesia.(JP-Penulis Adalah Mahasiswa PKN STAN).

LEAVE A REPLY