Harga Tiket Pesawat Hingga Musim Lebaran Meroket

0
226
Jessica Rosa Sormin.

Pengaruhi Ekonomi, Jokowi Usul Maskapai Asing Masuk RI

Oleh:  Jessica Rosa Sormin

Jambipos-Harga tiket pesawat yang tinggi menimbulkan dampak negatif terhadap sektor perekonomian. Bukan hanya konsumen yang dirugikan, bahkan pelaku usaha lainnya juga terkena imbas penurunan manfaat ekonomi. Hingga puncak arus balik lebaran tahun ini harga tiket pesawat tak kunjung turun, padahal proses alur mudik sangat dipengaruhi oleh tingkat keterjangkauan moda transportasi oleh masyarakat yang hendak hilir mudik.

Saat arus mudik lebaran, tiap tahun terjadi peningkatan yang tinggi dalam mobilitas masyarakat, seharusnya peningkatan mobilitas tersebut bisa menjadi  momen untuk memaksimalkan roda perputaran ekonomi, namun karena tiket pesawat mahal beberapa sektor usaha menjadi terbatas untuk meningkatkan daya ekonominya.

Tingkat perputaran uang saat masa Lebaran 2019 hanya bisa bertumbuh di tingkat 10 persen, dimana untuk dua tahun sebelumnya bisa mencapai 15 persen. Bank Indonesia mencatat jumlah uang tunai yang ditarik oleh masyarakat sudah mencapai Rp 187,2 triliun.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan jumlah Rp 187,2 triliun tersebut mencapai 86% dari target penyaluran BI yang sudah disediakan yaitu sebesar Rp 217,1 triliun, dimana realisasi penarikan uang tunai di masyarakat rata-rata 92% dari total ketersediaan dana setiap tahunnya.

Hingga pada periode lebaran yang memasuki kuartal II 2019 ini  BI memrediksikan  peningkatan konsumsi rumah tangga akan memberi peningkatan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi nasional hingga mencapai 5,4%, dan diharapkan akan meningkatkan efek redistribusi pendapatan dari perkotaan ke daerah yang dibawa oleh para pemudik.

Namun karena tingginya harga tiket pesawat ,kenaikan persentase data tersebut tidak sebaik tahun sebelumnya, dimana akan ada pergeseran efek ekonomi dalam tradisi musiman mudik Lebaran tahun 2019 ini dan hanya memberikan manfaat perekonomian bagi daerah dalam skala terbatas.

Pada transaksi di sektor riil, seperti pariwisata terjadi penurunan hingga 30 persen akibat banyaknya paket wisata yang dibatalkan oleh calon pengunjung. Hal ini tentu sangat merugikan penggiat wisata terutama wisata tujuan Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Tingkat kunjungan wisata Bali juga menurun hingga 20% akibat tingginya harga tiket pesawat.

Belum lagi adanya harga tiket yang sempat membuat heboh masyarakat, dimana harga tiket penerbangan tujuan Bandung menuju Medan saat musim lebaran mencapai 21 juta rupiah, dimana telah terjadi kenaikan rata-rata harga tiket pesawat  hingga empat kali lipat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Meroketnya harga tiket pesawat sejak akhir tahun 2018 lalu, cenderung tidak mengalami penurunan hingga memasuki musim libur lebaran di pertengahan tahun 2019.

Meminimalisir efek perlambatan ekonomi yang terjadi akibat kondisi tersebut, pemerintah menerbitkan Keputusan Menhub No 106 Tahun 2019 tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri. Namun realitanya hal tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap penurunan harga tiket pesawat dibandingkan dengan kenaikan harga tiket yang terjadi.

Hal ini menyebabkan terjadi penurunan jumlah penumpang pesawat. Dibuktikan dengan adanya data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat penurunan jumlah penumpang pesawat pada periode Januari hingga Maret 2019 mencapai 17,66 %, sepinya bandara yang berefek pada penurunan drastis pelanggan pada restoran-restoran di bandara, menurunnya omzet hotel, restoran, agen travel, hingga meningkatnya jumlah pembatalan reservasi kunjungan wisata domestik akibat kenaikan harga tiket pesawat, dan banyak wisatawan beralih berlibur keluar negeri.

Hingga puncak balik arus mudik Lebaran tahun ini terjadi penurunan jumlah penumpang di seluruh bandara , seperti di bandara Soekarno-Hatta jumlah penumpang hanya berkisar 1.200.180 penumpang  dibandingkan dengan lebaran tahun lalu dimana  total penumpang yang diangkut mencapai 1.732.023 penumpang, turun hingga 30,71 persen.

Begitupula dengan jumlah penerbangannya, berdasarkan data dari 36 bandara yang dipantau , terjadi penurunan jumlah penerbangan 30,08 persen dibandingkan jumlah penerbangan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Di tahun 2018 terdapat 13.921 penerbangan, sementara tahun ini turun menjadi sebanyak 9.733 penerbangan selama musim lebaran.

“Lebaran tahun ini memang terjadi penurunan pada jumlah penerbangan dan jumlah penumpang pesawat udara,” kata Ketua Harian Posko Tingkat Nasional Angkatan Lebaran Terpadu Tahun 2019, Sigit Irfansyah, di Gedung Kementerian Perhubungan, Senin (3/6/2019).

Kenaikan harga tiket pesawat pada musim lebaran tahun ini menyebabkan okupansi hotel di luar pulau Jawa menurun hingga 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Tahun-tahun sebelumnya  transportasi bus dan kapal laut mengalami penurunan jumlah penumpang, karena alasan macet dan memakan waktu lama, namun tahun ini akibat kenaikan harga tiket pesawat yang tinggi, masyarakat  kembali memilih alternatif transportasi darat dan laut.

Tampak adanya peningkatan penumpang bus hingga 20 persen jika dibandingkan dengan periode Lebaran tahun lalu, jadi bisa diperkirakan sebanyak 20 persen orang yang biasa naik pesawat akan pindah ke transportasi darat. Begitu pula dengan transportasi laut, menurut Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut, Kementerian Perhubungan, Wisnu Handoko memperkirakan jumlah penumpang kapal hingga puncak arus balik Musim Lebaran 2019 naik 8,27 persen dibandingkan tahun lalu.

Kenaikan harga tiket pesawat domestik yang meroket, menyebabkan harga tiket pesawat ke beberapa tujuan internasional bahkan menjadi jauh lebih terjangkau. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga tiket pesawat kerap berkontribusi pada inflasi, dimana hal tersebut tidak boleh dibiarkan terjadi berlarut-larut.

Setelah Keputusan menurunkan Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi dianggap tidak efektif, pemerintah melakukan intervensi lanjutan. Presiden Jokowi mengusulkan maskapai asing masuk RI, karena pada sektor penerbangan di Indonesia dinilai telah terjadi kondisi pasar duopoli dimana hanya ada dua grup maskapai besar di Indonesia, yaitu Garuda Indonesia Group dan Lion Air Group yang mungkin saja bisa melakukan kartel untuk meraup untung yang lebih besar .

Usul memasukkan maskapai asing juga didukung oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), dimana hal tersebut akan meramaikan industri penerbangan di dalam negeri, sektor transportasi udara lebih banyak sehingga harga tiket pesawat bersaing yang kemudian bisa menekan harga tiket pesawat menjadi lebih murah. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani menyebut maskapai asing yang siap menyambut recana tersebut berasal dari  Malaysia, Australia, dan Singapura.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga mengatakan bahwa kehadiran maskapai asing merupakan opsi terakhir pemerintah untuk menurunkan harga tiket pesawat. (JP-Penulis Adalah Mahasiswi Akuntansi PKN STAN)

LEAVE A REPLY