BKSDA: Gajah Mati di Jambi Bukan karena Bahan Kimia

0
96
Kawanan gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) liar berada di kebun warga di Desa Negeri Antara, Kecamatan Pintu Rime, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Minggu (10/2/2019). Conservation Respont Unit (CRU) DAS Peusangan dari BKSDA Aceh mengerahkan satu tim untuk melakukan penggiringan 32 ekor gajah liar yang sejak lima hari terakhir memasuki kawasan permukiman dan merusak perkebunan warga. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/ama.

Jambipos, Jambi– Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jambi Rahmad Saleh mengatakan sudah mengirimkan tim investigasi beserta dokter hewan untuk melakukan pemeriksaan nekropsi terhadap gajah Sumatera yamg ditemukan mati di area Wildlife Conservation Area (WCA) yang juga merupakan bagian area konsesi PT Lestari Astri Jaya (LAJ) di Desa Semambu, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi.

“Kami sudah melakukan lidik, observasi dan olah TKP (tempat kejadian perkara) sampai uji lab,” kata Rahmad Saleh dalam keterangan tertulis kepada wartawan Minggu (30/6/2019).

Sebelumnya, tim Ranger Wildlife Conservation Area (WCA) PT Lestari Astri Jaya (LAJ) pada Rabu, 8 Mei 2019, menemukan seekor gajah (elephas maximus sumatranus) dalam kondisi mati di areal tersebut. Direktur LAJ Meizani Irmadhiany mengatakan hasil observasi dan identifikasi awal Tim Ranger WCA menunjukkan bahwa gajah Sumatera tersebut berjenis kelamin betina.

Temuan gajah mati ini telah dilaporkan oleh Manajer WCA kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jambi untuk investigasi dan penanganan lebih lanjut. “Kami mendukung upaya investigasi yang menyeluruh dan transparan terhadap kematian gajah di wilayah WCA. Hal itu meupakan bagian dari komitmen berkelanjutan LAJ dengan pemerintah,” jelas Meizani Irmadhiany.

Meizani Irmadhiany mengatakan WCA merupakan salah satu komitmen LAJ dalam upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem. Tim Ranger WCA setiap hari rutin melakukan patroli serta melakukan sosialisasi kepada warga perambah untuk mencegah terjadinya konflik antara manusia dan gajah. “WCA menjadi solusi penting dalam upaya mengembalikan habitat Gajah Sumatera yang saat ini menghadapi tantangan dan ancaman deforestasi dan kegiatan ilegal lainnya,” imbuh Meizani Irmadhiany.

Berdasarkan hasil lab forensik, kematian gajah Sumatera berjenis kelamin betina ini, bukan karena faktor kimia. Agar tidak terjadi hal serupa, BKSDA Jambi akan mensosialisasikan secara terus menerus kepada masyarakat terkait habitat ruang gajah dan manusia yang sudah overlap. “Kami akan memberikan pemahaman ke masyarakat agar ke depannya masyarakat dan gajah bisa hidup berdampingan dengan pembagian ruang,” tambah Meizani Irmadhiany.

Saat ini, KSDA Jambi sedang menginisiasi program Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) sebagai koridor Gajah Sumatera di kawasan lanskap Bukit Tiga Puluh. Program WCA merupakan bagian dari koridor gajah/KEE yang diusulkan oleh BKSDA Provinsi Jambi.

Diketahui, lokasi WCA terletak berbatasan dengan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) dan diapit oleh dua blok konsesi restorasi ekosistem PT Alam Bukit Tiga puluh (ABT). WCA merupakan proyek jangka panjang LAJ bekerjasama dengan WWF-Indonesia yang secara efektif mulai dikembangkan sejak 2018.

LAJ mengalokasikan sebagian area konsesi tanaman hutan industrinya sebagai wilayah jelajah bagi Gajah Sumatera yang saat ini populasinya diperkirakan hanya tersisa 120-150 ekor di lanskap Bukit Tigapuluh.(*)

Sumber: BeritaSatu.com

 

 

LEAVE A REPLY