Pemimpin yang Dilahirkan dan Dibentuk

0
75
Jokowi-Presiden-NKRI...di-Osaka-Jepang-untuk-menghadiri-KTT-G20-Jumat-28-Juni-2019.IST

Oleh: Lutfita Vionna Agista Garini

Jambipos-Abraham Lincoln dan Steve Jobs. Mendengar kedua nama tersebut maka yang secara otomatis akan muncul di benak kita adalah Lincoln dengan kepemimpinannya yang dicintai Amerika, serta Steve Jobs dengan Applenya yang berhasil mendominasi pasar dunia. Dua dari sekian banyak tokoh berpengaruh yang berhasil mematahkan stigma bahwa pemimpin yang besar juga harus dilahirkan dari keluarga yang besar dan ternama.

Kebanyakan pemikiran di masyarakat berpusat pada teori bahwa kepemimpinan adalah murni karena faktor keturunan atau sebuah bakat yang dibawa ketika lahir. Jika orang tuanya adalah seseorang yang pandai mengelola perusahaan, maka anaknya juga sosok yang pasti mampu meneruskan. Jika orang tuanya adalah pegawai yang bertugas merawat taman, maka anaknya hanya tahu bagaimana cara menyiangi tanaman.

Pemikiran ini tidak sepenuhnya salah karena sejarah memang menunjukkan bahwa beberapa pemimpin muncul dalam situasi tertentu. Namun yang perlu diingat adalah kebanyakan pemimpin justru dibentuk dan dibina, bukan sekedar dilahirkan. Terlahir dengan kekuasaan akan memberikan seseorang otoritas, kewenangan, atau rasa segan dari orang lain. Tetapi semua hal tersebut tidak lantas menjadikannya sebagai pemimpin melainkan hanya sebatas bos. Kekuasaannya yang demikian perlu untuk dikembangkan, dilatih, dan dibina lebih lanjut.

George Buckley, seorang mantan kepala eksekutif 3M yang dikenal sebagai salah satu perusahaan inovatif di dunia, menyatakan bahwa kunci untuk mengembangkan pemimpin adalah berfokus pada hal-hal yang bisa dikembangkan seperti misalnya pemikiran strategis.

Ia juga percaya bahwa pemimpin tidak boleh dipromosikan naik jabatan terlalu cepat. Para pemimpin membutuhkan waktu untuk mengalami kegagalan dan memiliki apa yang diperlukan untuk membangun kembali. Pernyataan Buckley dapat dikatakan sejalan dengan teori perilaku yang percaya bahwa orang dapat menjadi pemimpin melalui proses pengajaran, pembelajaran, ataupun observasi.

Dasar kepemimpinan yang baik terletak pada karakter yang baik dan terhormat serta pada pelayanan tanpa pamrih untuk kepentingan organisasi tempatnya berada. Terdapat beberapa keterampilan dasar yang dibutuhkan seseorang untuk dijadikan sebagai modal dalam menjadi pemimpin yang baik.

Pertama yakni pemahamannya mengenai sifat manusia. Menjadi pemimpin berarti berhadapan dengan banyak individu yang berbeda latar belakang. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus dapat memahami, membimbing, dan mengarahkan anggotanya agar potensi yang ada pada diri mereka dapat tumbuh secara maksimal. Dalam menyikapi setiap anggota yang dipimpin, ia perlu menempatkan diri dengan sesuai dan mampu memberi rasa nyaman.

Kedua adalah kemampuan dalam mengambil keputusan. Sudah menjadi sifat dan tugas alami seorang pemimpin untuk mengambil keputusan. Bahkan dapat dikatakan jika seorang pemimpin hidup dari satu keputusan ke keputusan lainnya setiap hari. Ketika mengambil keputusan tentu diperlukan pertimbangan mengenai dampak baik dan buruk yang akan terjadi. Kemampuan mengambil keputusan ini memang dapat dipelajari secara teori, namun sedikit banyak juga mengandalkan naluri.

Yang ketiga merupakan kemampuan dalam menciptakan lingkungan kerja. Secara garis besar dapat diambil suatu kesimpulan bahwa orang dapat bekerja dengan baik pada suatu tempat yang tepat.

Tempat atau lingkungan yang tepat ini harus memenuhi beberapa kriteria, di antaranya yakni timbulnya rasa saling percaya di antara para anggota, dukungan dan persaingan secara sehat, serta kesamaan visi misi untuk mencapai tujuan organisasi. Pemimpin juga dapat melibatkan karyawannya, mendelegasikan wewenang sesuai dengan keahlian yang dimiliki masing-masing dari mereka, serta mendorong partisipasi secara lebih aktif lagi.

Keempat dan yang terakhir adalah keahlian dalam membaca situasi dan memimpin secara efektif. Suatu kesimpulan yang cukup umum adalah pemimpin yang baik dan efektif tidak hanya memakai satu gaya. Budaya yang berlaku di suatu daerah atau organisasi merupakan sebuah variabel penting yang menentukan gaya kepemimpinan mana yang paling sesuai.

Apa yang berhasil di Amerika belum tentu akan berhasil pula di belahan bumi lainnya. Pemimpin harus belajar cara menilai situasi, bagaimana memodifikasi situasi agar lebih sesuai dengan gaya kepemimpinan yang dimiliki mereka, serta menilai perilaku pemimpin seperti apa yang akan lebih efektif digunakan dalam situasi tertentu.

Pada akhirnya kita akan sampai pada suatu kesimpulan bahwa kepemimpinan dan pemimpin lebih menyerupai sebuah seni daripada ilmu sains. Apakah ia dilahirkan atau dibentuk akan bergantung pada bagaimana cara seseorang memandang dan mendeskripsikan kepemimpinan itu sendiri.

Seorang pemimpin lahir dan kemudian berkembang melalui pengalaman hidup yang dialaminya. Kemudian yang paling penting adalah setiap orang dapat memimpin serta menjadi seorang pemimpin.(JP-Penulis Adalah Mahasiswa D III Akuntansi Politeknik Keuangan Negara STAN)

LEAVE A REPLY