Tiket Pesawat Melonjak, Pemerintah Bertindak

0
84
ILUSTRASI-Pesawat Ethiopian Airlines Jatuh, Seluruh Penumpang dan Awak Diduga Tewas Pesawat Boeing 737 milik Ethiopian Airlines meninggalkan bandara di Nairobi. ( Foto: AFP / Dokumentasi )

Oleh: Muh. Rezky W. Kusuma

Jambipos-Indonesia meruapakan Negara kepulauan sehingga transportasi udara merupakan komponen vital dalam kehidupan sosial dan ekonomi di Indonesia. Namun, akhir-akhir ini masyarakat Indonesia merasakan terjadinya kenaikan yang sangat melonjak terkait harga tiket pesawat. Hal ini tentunya menjadi keluhan di tengah masyarakat. Ditambah lagi dengan fakta bahwa masyarakat Indonesia mayoritas memilih opsi penerbangan murah (LCC/Low Cost Carrier) sehingga wajar apabila masyarakat mengeluhkan hakl ini.

Disamping itu, kenaikan harga tiket pesawat juga berdampak pada keadaan ekonomi di tingkat nasional khususnya di sektor industri pariwisata. Tercatat bahwa menurunnya pengunjung di objek-objek wisata yang kemudian berdampak pada terkendalanya aktifitas usaha perhotelan karena banyak yang tidak terisi dan tidak ramai lagi oleh pengunjung dan wisatawan.

Melonjaknya tiket pesawat juga berefek kepada perusahaan opsi transportasi darat seperti bus dan taksi khususnya bus dan taksi bandara. Sejumlah supir mengeluhkan bahwa jumlah penumpang bus sejak naiknya harga tiket pesawat ikut menurun. Tentunya, hal ini akan berdampak terhadap kelangsungan usaha lain yang terkait.

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mengatakan bahwa kenaikan harga avtur adalah alasan utama mengapa harga tiket pesawat melonjak. Beliau menyatakan bahwa monopoli avtur di Indonesia oleh Pertamina merupakan hal yang paling mendasar yang menjadi alasan tingginya harga tiket karena avtur merupakan komponen paling dominan dalam beban operasional maskapai penerbangan.

Kenaikan harga avtur ini tercatat mencapai berdasarkan data dari Pertamina Aviation, avtur di Bandara Soetta-Tangerang harganya mencapai USD 0,618/liter (sekitar Rp8.920 per liter). Harga itu pun belum termasuk dengan PPN sebesar 10%, dan pajak penghasilan yang sebesar 0,3%.

Melonjaknya harga avtur ini tidak lepas dari efek depresiasi nilai tukar rupiah yang sempat mencapai angka Rp 15.000 per dollar Amerika. Karena semua maskapai penerbangan domestic membeli avtur dari Pertamina, muncul lah perbedaan harga antara tiket penerbangan domestik dan internasional.

Hal lain yang menjadi salah satu penyebab terjadinya perbedaan harga antara tiket pesawat domestik dan internasional adalah karena adanya pengenaan pajak. Di Indonesia, tiket penerbangan domestik pesawat dikenakan PPN berbeda dengan tiket penerbangan internasional yang dibebaskan dari pengenaan PPN.

Dalam teori Ekonomi Makro sendiri, fluktuasi semacam ini merupakan hal yang lumrah terjadi dan bisa terjadi karena berbagai macam sebab. Adalah tugas dan tanggung jawab pemertintah untuk menangani permasalahan ekonomi tersebut. Hal ini sesuai dengan salah satu prinsip ekonomi yang menyebutkan bahwa Pemerintah merupakan tangan tak tampak yang dapat mengatur kestabilan dan keseimbangan ekonomi dalam suatu Negara.

Pada awalnya, kebijakan yang dikeluarkan oleh Presiden Joko Widodo adalah membuka peluang bagi perusahaan minyak luar negeri untuk ikut bersaing di Indonesia sebagai penyedia avtur dengan harapan Pertamina akan menurunkan harga avtur dalam rangka menjaga persaingan penyediaan avtur di Indonesia.

Namun, Pertamina sendiri telah menyatakan telah menurunkan harga avtur sehingga harganya kompetitif di luar negeri namun harga tiket tak tampak juga turun. Merespon hal tersebut, pemerintah kembali mengeluarkan kebijakan untuk menetapkan tarif batas atas tiket pesawat 12% hingga 16% untuk jalur penerbangan tertentu.

Namun, hal tersebut juga masih belum mampu memenuhi keluhan masyarakat terkait harga tiket pesawat. Inovasi terbaru yang dikeluarkan pemerintah baru-baru ini adalah dengan mengeluarkan instruksi kepada perusahaan Operator Bandara dalam hal ini PT. Angkasa Pura untuk memberikan “diskon” kepada perusahaan maskapai penerbangan dengan tujuan untuk menekan beban operasional perusahaan. Diskon tersebut berupa landing fee, parking fee, aviobridge fee, dan check-in counter fee.

Bukan tanpa hasil, semua maskapai penerbangan yang tergabung dalam INACA sempat sepakat untuk menurunkan harga tiket pesawatnya secara serentak. Penurunan harga tiket dilakukan dengan rentang presentasi yang variatif mulai dari 20% sampai dengan 60%. Adapun maskapai yang tercatat menurunkan harga tiket adalah Garuda Indonesia, Air Asia Indonesia, Lion Air, Citilink, dan Sriwijaya Air.

Akan tetapi, penurunan harga tiket pesawat masih bisa diakali oleh beberapa maskapai seperti Lion Air dengan mengenakan bagasi berbayar sedangkan maskapai lain tercatat hanya menyediakan tiket turun harga untuk 30% dari jumlah kursinya sehingga masyarakat masih belum merasakan secara signifikan hasil dari pemerintah untuk menurunkan harga tiket pesawat ini. Namun, masih kita akan nantikan apa yang akan dilakukan pemerintah selanjutnya.(JP-Penulis Adalah Mahasiswa Semester 4 D3 Akuntansi Alih Program Politeknik Keuangan Negara STAN)

 

Sumber referensi :

https://money.kompas.com/read/2019/06/21/084200326/empat-jurus-pemerintah-turunkan-harga-tiket-pesawat?page=all

https://www.liputan6.com/bisnis/read/3990319/harga-tiket-pesawat-mahal-bikin-industri-pariwisata-lesu

https://www.finansialku.com/naiknya-tiket-penerbangan/

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190328120502-92-381409/efek-domino-harga-tiket-pesawat-mahal

LEAVE A REPLY