Berita Hoaks dan Bias Jangkar: Bagaimana Mencegahnya?

0
126
ILUSTRASI-Terdakwa kasus dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks Ratna Sarumpaet (tengah) didampingi anaknya Atiqah Hasiholan (kanan) turun dari mobil tahanan untuk mengikuti sidang lanjutan di PN Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (14/5/2019). Sidang tersebut mengagendakan pemeriksaan terdakwa. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/ama.

Oleh : I Dewa Gede Dodi Brasika

Jambipos-Dalam era Globalisasi ini, informasi mengalir melalui internet hampir seperti tidak ada batasnya. Segala informasi yang ada seakan akan berada dalam gengaman tangan kita. Memang globalisasi memberikan kita banyak keuntungan dengan dilancarkannya akses informasi ini, tetapi tidak semua informasi yang beredar di dunia maya itu bisa dipastikan keabsahan dan kebenarannya. Di Indonesia sepertinya masih banyak yang belum bisa membedakannya.

Direktur Informasi dan Komunikasi Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Purwanto pada tahun 2018 menyebutkan  konten – konten media sosial di Indonesia di dominasi informasi bohong atau hoaks.

“Dari penelitian, informasi hoaks sudah mencakup 60 persen dari konten media sosial di Indonesia,” ujar Wawan di Jakarta, Rabu (14/3/2018).

Persebaran konten hoaks ini didukung dengan kurangnya sikap skeptis dan kritis masyarakat Indonesia dalam menerima informasi. Masih banyak yang termakan empati dan simpati serta lantas meneruskannya tanpa mau mencari tahu keabsahan informasi yang disebarkannya.

Tahun Pemilu

Tahun 2019 ini bertepatan dengan diadakannya pesta demokrasi, jadi masyarakat sedang maraknya mengutarakan pilihan politiknya di media sosial. Momen ini dimanfaatkan oleh oknum – oknum tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan infromasi palsu ( hoaks ) demi kepentingan pribadinya.

Akibatnya masyarakat cenderung bertahan  pada informasi pertama yang mereka dapatkan terlepas dari kebenaran informasi tersebut. Adanya informasi selanjutnya yang menyangkal informasi awal tetap tidak dapat merubah pandangan orang tersebut.

Pada manajemen terdapat yang namanya bias jangkar dalam pengambilan keputusan, dimana seseorang memiliki kecenderungan bertahan pada informasi awal dan gagal menyesuaikan dengan informasi selanjutnya.

Ada beberapa langkah untuk mencegah terjadinya bias jangkar saat bermain media sosial,

  1. Perhatikan domain website sumber, informasi yang ada di domain yang terpercaya biasanya sudah terverifikasi keabsahannya, domain seringkali berbentuk second level domain (sch.id; gov.id; co.id; ac.id; go.id), karena untuk memiliki domain website ini harus melengkapi dan memenuhi berbagai dokumen resmi kelembagaan ke penyelenggara domain.

Sedangkan website dengan domain (.com ; .org ; .blogspot) perlu dipertanyakan kebenarannya, karena setiap orang dapat memiliki domain tersebut dengan proses yang ringkas.

  1. Crosscheck terhadap informasi yang telah didapatkan, setelah memverifikasi bahwa website / situs tersebut terpecaya, maka kita perlu memastikan bahwa informasi yang tertera adalah benar, dengan cara riset untuk memastikan kebenarannya.

 Saat kita tidak bisa memverifikasi kebenaran suatu informasi, stop penyebaran informasi terebut sekalipun terhadap kerabat dekat. Sebarkanlah informasi yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. Agar orang lain tidak terkena bias jangkar dan tertahan pada informasi yang belum bisa dipastikan kebenaran informasinya. (JP-Penulis Adalah , Mahasiswa D3 Akuntansi Politeknik Keuangan Negara STAN)

LEAVE A REPLY