Pengaruh Motivasi dan Pengawasan Orang Tua untuk Meningkatkan Potensi Belajar Anak

0
112
ILUSTRASI-Rahima Fachrori saat membesuk bayi tanpa kulit perut didampingi Ketua DWP RSUD Raden Mattaher Sri Wahyuni Satriana, Kadis DP3AP2 Provinsi Jambi Luthpiah, dan Pengurus PKK Provinsi Jambi. Humas

Oleh: Friesillia Fortuna Syarie

Jambipos-Motivasi adalah proses dimana seseorang diberi energi, diarahkan dan berkelanjutan menuju tercapainya suatu tujuan. Motivasi juga sering disebut sebagai acuan atau dorongan seseorang untuk mencapai sesuatu dengan sungguh-sungguh. Orang tua sering kali berujar atau melakukan sesuatu dengan tujuan meningkatkan motivasi anak. Motivasi yang diberikan oleh orang tua bertujuan agar bisa menambah semangat belajar anak, membuat anak gigih mencapai suatu prestasi, atau menambah rasa percaya diri anak.

Motivasi tidak akan berguna apabila tidak ada suatu tujuan yang ingin dicapai atau kebutuhan untuk dipenuhi. Teori hierarki kebutuhan (Abraham Maslow) menyatakan bahwa dalam setiap orang terdapat hierarki lima kebutuhan, yaitu: kebutuhan fisiologis, kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri. Setidaknya terdapat satu dari kelima kebutuhan tersebut sehingga seseorang membutuhkan motivasi untuk mencapainya.

Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan manusia untuk dapat mempertahankan hidup. Manusia memiliki hal-hal mutlak yang harus dipenuhi dalam hidupnya, yaitu kebutuhan seseorang untuk makan, minum, oksigen, tempat tinggal, dan kebutuhan lainnya.

Kebutuhan keamanan, meliputi kebutuhan keamanan kerja, kemerdekaan dari rasa takut ataupun tekanan, keamanan dari kejadian atau lingkungan yang mengancam. Kebutuhan rasa memiliki sosial dan kasih sayang, meliputi kebutuhan terhadap persahabatan, berkeluarga, berkelompok, dan interaksi.

Kebutuhan terhadap penghargaan, meliputi kebutuhan harga diri, status, martabat, kehormatan, dan penghargaan dari pihak lain. Kebutuhan aktualisasi diri, meliputi kebutuhan memenuhi keberadaan diri (self fulfillment) dengan memaksimumkan penggunaaan kemampuan dan potensi diri.

Untuk mencapai potensi terbaik anak dalam mencapai suatu tujuan terdapat tahapan teori motivasi kontemporer menurut ilmu manajemen, diantaranya:

  1. Teori Penetapan Tujuan

Dengan tujuan yang spesifik maka meningkatkan kinerja dan tujuan yang sulit akan menghasilkan kinerja yang lebih tinggi daripada tujuan yang mudah. Jika anak mengetahui bahwa sangatlah mudah ia untuk mendapatkan sesuatu, sangatlah cepat ia mendapatkan apa yang ia inginkan tanpa adanya usaha yang signifikan, maka anak akan enggan berusaha juga tidak akan ada tujuan yang hendak ia capai. Lain halnya bila ia terbiasa gigih dan berusaha untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, anak tidak akan memiliki sifat yang suka meremehkan sesuatu.

  1. Teori Penguatan

Penguat adalah konsekuensi-konsekuensi yang mengikuti pelaku dimana perilaku tersebut akan diulang. Teori penguatan adalah teori dimana perilaku adalah fungsi konsekuensi-konsekuensinya. Menggunakan teori penguatan, orang tua dapat mempengaruhi perilaku anak dengan menggunakan penguat positif dalam tindakan-tindakan yang membantu anak mencapai tujuan dan sekaligus harus mengabaikan, bukan menghukum, perilaku yang tidak diinginkan. Meskipun hukuman dapat menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan lebih cepat daripada non-penguatan yang seringkali berefek sementara dan efek yang tidak menyenangkan termasuk perilaku seperti konflik dalam keluarga, konflik antara orang tua dan anak.

  1. Mendesain Pekerjaan yang Memotivasi

Desain pekerjaan adalah cara dimana tugas-tugas digabungkan untuk membentuk suatu pekerjaan yang lengkap. Orang tua harus merangcang pekerjaan dengan sengaja dan penuh perhatian untuk mempertimbangkan perubahan mood, keterampilan serta kemampuan anak.

  1. Teori Keadilan

Adalah teori dimana anak membandingkan rasio usahanya dari hasil yang ia dapatkan dengan rasio orang lain kemudian memperbaiki apabila terdapat hasil yang kurang memuaskan untuk dapat ditingkatkan kedepannya. Lain halnya dengan perbandingan-perbandingan yang biasanya dilakukan oleh orang tua untuk membandingkan pencapaian anaknya dengan pencapaian orang lain, hal tersebut kerap kali membuat anak menjadi tidak percaya diri atas hasil yang telah ia raih. Daripada membandingkan, lebih baik memotivasi anak bahwa ia dapat mencapai apapun yang ingin dia capai, termasuk meraih prestasi yang orang lain dapat raih.

  1. Teori Ekspektasi

Merupakan teori bahwa anak cenderung bertindak dengan cara tertentu yang berdasarkan pada harapan bahwa tindakan itu akan diikuti oleh suatu hasil tertentu dan pada daya tarik dari hasil bagi individu tersebut.

Berbeda dengan motivasi, pengawasan/pengendalian memiliki arti penting tersendiri dengan pengaruhnya bagi pengaruh terhadap pola belajar anak. Pengawasan/pengendalian adalah proses pemantauan, membandingkan dan mengoreksi kinerja.ada tiga langkah dalam melakukan pengawasan, yang pertama adalah membuat standar.

Membuat standar adalah membuat suatu kriteria yang bisa digunakan untuk mengukur hasil sebuah pekerjaan berdasarkan kemampuan kerja dalam keadaan normal yang dibagi dalam dua bentuk yaitu, kuantitatif (dinyatakan dalam satuan) dan kualitatif (pendapat umum).

Kedua adalah membandingkan kegiatan standar, yaitu suatu langkah yang dilakukan untuk mengetahui besarnya penyimpangan yang terjadi yang bisa digunakan sebagai alarm untuk mengetahui gejala-gejala yang mungkin saja terjadi. Ketiga adalah tindakan perbaikan, yaitu suatu tindakan yang dilakukan untuk memperbaiki aktifitas, kegiatan, atau kebijakan yang tidak sesuai dengan standarnya.

Motivasi dan pengawasan merupakan dua fungsi yang berbeda dalam manajemen, namun kedua-duanya memiliki keterkaitan yang sangat erat dan ruang lingkup kedua fungsi tersebut saling berhubungan dan berkaitan terhadap pola belajar anak.

Motivasi mendorong anak untuk dapat mencapai tujuan dengan melakukan hal-hal seperti gigih belajar, berdoa kepada tuhan, dan senantiasa memperbaiki diri sedangkan pengawasan memastikan motivasi dapat mencapai tujuan tersebut. Tanpa motivasi, tiada dorongan bagi anak untuk mencapai sesuatu, dan tanpa pengawasan, motivasi saja menjadi tidak ada arti tanpa adanya eksekusi.(JP-Penulis Adalah Mahasiswa D III Akuntansi Politeknik Keuangan Negara STAN)

LEAVE A REPLY