Kemarau, Serangan Ulat Bulu di Tanjabtim Meluas

0
65
ILUSTRASI-Ulat Bulu Beracun. Google

Jambipos, Tanjabtim- Kemarau yang melanda Kabupaten Tanjungjabung Timur (Tanjabtim) Provinsi Jambi dua bulan terakhir memicu munculnya serangan hama ulat bulu. Serangan hama ulat bulu tersebut kini meluas di Kecamatan Nipahpanjang, Tanjambtim.

Mencegah semakin meluasnya serangan hama ulat bulu tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tanjungjabung Timur (Tanjabtim) akhirnya memutuskan melakukan fogging (penyemprotan) racun serangga (antiinsektisida) secara massal.

“Berdasarkan hasil rapat jajaran dinas instansi terkait, Sabtu (13/7/2019), fogging untuk membasmi serangan hama ulat bulu di Tanjabtim dilakukan mulai Senin (15/7/2019). Sasaran utama fogging terutama daerah yang diserang hama ulat bulu, yakni Kelurahan Nipahpanjang I dan II, Kecamatan Nipahpanjang,” kata Wakil Bupati Tanjabtim M Robby di Muarasabak, Tanjabtim, Provinsi Jambi, Minggu (14/7/2019).

Menurut M Robby, fogging massal tersebut dilakukan tim gabungan dari pasukan pemadam kebakaran hutan dan lahan, Manggala Agni, Dinas Kesehatan, Dinas Pemadam Kebakaran, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), TNI, dan Polri.

Dikatakan, penanggulangan serangan hama ulat bulu yang meluas di Kecamatan Nipahpanjang, Tanjabtim perlu dilakukan secara missal dan cepat menyusul munculnya keresahan warga akibat serangan hama ulat bulu itu. Warga Nipahpanjang resah karena serangan hama ulat bulu tidak cuma menyerang tanaman, tetapi juga manusia.

“Beberapa warga Kelurahan Nipahpanjang yang terkena serangan hama ulat bulu mengalami gatal-gatal. Warga resah karena serangan hama ulat bulu semakin meluas. Pembasmian hama ulat bulu secara manual dengan penyemprotan antihama yang dilakukan warga kurang efektif. Karena itu fogging massal harus dilakukan membasmi serangan hama ulat bulu ini,” ungkapnya.

Menurut Camat Nipahpanjang, Helmi Agustinus, serangan hama ulat bulu di Kelurahan Nipahpanjang I dan II, Kecamatan Nipahpanjang sudah terjadi sejak Mei lalu. Serangan hama ulat bulu tersebut pun meluas menyusul musim kemarau Juni-Juli.

“Awalnya ulat bulu hanya terlihat sedikit. Tetapi memasuki bulan Juli ini, serangan hama ulat bulu semakin meluas. Warga pun sudah banyak yang mengalami gatal-gatal akibat serangan ulat bulu,” imbuhnya.

Dijelaskan, hama ulat bulu yang menyerang kawasan pantai timur Jambi itu bersarang di hutan bakau (mangrove). Setelah daun-daun hutan bakau habis, ulat bulu menyebar ke permukiman dan kebun warga.

Jadi untuk membasmi ulat bulu tersebut, penyemprotan racun serangga harus dilakukan ke sarang ulat bulu di hutan bakau. Kalau penyemprotan racun serangga tidak efektif, maka harus dilakukan bom air (water bombing),” katanya.

Menurut Helmi Agustinus, hama ulat bulu yang menyebar ke Kecamatan Nipahpanjang berasal dari luar. Tetapi asal hama ulat bulu tersebut belum diketahui dari daerah mana.

Perkiraan sementara, hama ulat bulu tersebut berasal dari sebuah pulau di pantai timur Jambi, Pulau Harapan yang berbatasan dengan Nipahpanjang.

Sementara itu, Kepala Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Berbak, Tanjabtim, Sutarman mengatakan, serangan hama yang meningkat selama musim kemarau ini juga menimbulkan kerusakan tanaman kedelai di Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjabtim.

“Saat ini luas tanaman kedelai di Kecamatan Berbak tersisa hanya 180 hektare (ha). Luas tanaman kedelai tersebut berkurang sekitar 50 ha dibanding luas lahan kedelai tahun lalu sekitar 230 ha. Sebagian besar tanaman kedelai di daerah ini rusak akibat serangan hama,”katanya.

Menurut Sutarman, penanganan serangan hama tanaman kedelai di daerah itu sulit karena keterbatasan fasilitas dan obat-obatan antiinsektisida atau racun serangga. Kemudian bantuan benih kedelai untuk mengganti tanaman kedelai yang rusak juga minim.

“Para petani kedelai di Berbak hanya mendapat bantuan benih kedelai untuk areal tanam 30 ha. Sedangkan pengadaan benih untuk 25 ha lahan hasil swadaya petani,” ujarnya.(JP-SP)

LEAVE A REPLY