Mengapresiasi Perjuangan Pembangunan Pariwisata di Tengah Kegaduhan Bangsa

0
143
Radesman Saragih, S.Sos.

Oleh : Radesman Saragih, S.Sos.

Pengantar

Terciptanya stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) menjadi salah satu kunci keberhasilan pembangunan pariwisata di suatu negara atau daerah. Situasi negara atau daerah yang aman dan kehidupan masyarakat yang tertib akan akan menghidupkan dunia pariwisata negara atau daerah tersebut. Sebaliknya situasi keamanan yang tidak stabil dan disertai kehidupan masyarakat yang sarat kegaduhan membuat dunia pariwisata suatu negara atau daerah bisa terpuruk.

Menurut Samsuridjal D dan Kaelany HD dalam bukunya “Peluang di Bidang Pariwisata”, faktor kestabilan politik, keamanan, kesehatan masyarakat, kelancaran transportasi, kenaikan pendapatan masyarakat dan informasi yang baik mengenai suatu daerah tujuan wisata sangat menentukan dalam kemajuan pariwisata suatu daerah atau negara.

Pendapat tersebut mengisyaratkan bahwa wisatawan tertarik berkunjung ke suatu daerah tujuan wisata, bukan hanya karena adanya destinasi wisata yang memikat,  tetapi juga berkat adanya keamanan, ketertiban dan kesehatan masyarakat di suatu daerah atau negara yang mereka akan kunjungi.

Puncak Kejayaan

Pemerintah Indonesia di era Orde Baru (Orba) benar-benar memperjuangkan pembangunan pariwisata nasional melalui penciptaan kambtimas tersebut. Terciptanya kamtibmas di Indonesia selama Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) I – V (1980 – 1990-an) membuat pariwisata Indonesia yang terpuruk selama Orde Lama bisa bangkit. Berkat terjaminnya stabilitas kamtibmas dan pembangunan pariwisata yang terarah, kunjungan wisata ke Indonesia juga meningkat di akhir Pelita V.

Jumlah kunjungan wisman ke Indonesia tahun 1993 mencapai 3,4 juta orang meningkat dari tahun sebelumnya sekitar 3 juta orang. Selama periode 1990 – 1993, rata-rata devisa negara yang dihasilkan dari sektor pariwisata di Indonesia mencapai US$ 600 juta – US$ 700 juta /tahun. (Samsuridjal D dan Kaelany HD)

Kejayaan pariwisata Indonesia itu masih bisa dipertahankan hingga memasuki era reformasi. Di tengah stabilitas kamtibmas, kunjungan wisman ke Indonesia tahun 2000 – 2002 rata-rata mencapai 5 juta orang. Tetapi setelah meletusnya peristiwa Bom Bali I Oktober 2002, kunjungan wisman ke Indonesia menurun.

Hal itu nampak dari jumlah wisman yang berkunjung ke Indonesia pasca Bom Bali I. Kunjungan wisman ke Indonesia setahun pasca Bom Bali I (2003) hanya 4,5 juta jiwa turun dari tahun 2001 sekitar 5,2 juta jiwa. Kemuidian devisa negara dari sektor wisata tahun 2003 hanya US $ 4 juta atau turun dari tahun 2001 US$ 5,2 juta.

Pemulihan kamtibmas pasca Bom Bali I sempat menaikkan kunjungan wisman ke Indonesia menjadi 5, 3 juta (2004) dan 5 juta jiwa (2005). Namun akibat peristiwa Bom Bali II tahun 2005, kunjungan wisman ke Indonesia tahun 2006 menurun menjadi 4,9 juta jiwa. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa stabilitas kamtibmas sangat berpengaruh terhadap dunia pariwisata Indonesia.

Tantangan Bencana

Selain tantangan ketidakstabilan kamtibmas alias kegaduhan nasional, seringnya terjadi bencana alam juga menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia dalam meningkatkan pembangunan pariwisata. Berbagai program pembangunan pariwisata, termasuk upaya peningkatan kunjungan wisatawan ke Indonesia   sering gagal akibat bencana alam.

Seperti diutarakan Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Arief Yahya,  rentetan bencana alam yang melanda berbagai daerah di Indonesia sejak 2017 hingga 2018 menyebabkan pariwisata nasional kembali terpuruk. Meletusnya Gunung Agung di Nusa Tenggara Barat (NTB) tahun 2017 yang disusul gempa bumi Lombok (NTB), Palu (Sulawesi Utara) dan teror bom Surabaya (Jawa Timur ), tsunami Selat Sunda (Provinsi Banten), jatuhnya pesawat Lion Air tahun 2018 membuat kunjungan wisman ke Indonesia menurun.

Kunjungan wisman ke Indonesia turun satu juta jiwa tahun 2017. Kemudian kunjungan wisman tersebut menurun lagi menjadi 1,2 juta jiwa tahun 2018. Akibat gempa yang melanda Lombok dan Palu, sekitar 75 persen wisman membatalkan kunjungan ke Indonesia. Total wisman yang membatalkan kunjungan ke Indonenesia Agustus – Desember 2018 mencapai 500.000 orang. Sedangkan devisa negara yang hilang akibat bencana alam tersebut mencapai US$ 2 miliar (Rp 28 triliun).

Tetap Berjuang

Bercermin pada pengalaman sebelumnya, perjuangan membangun pariwisata Indonesia tidak bisa terhenti kendati terjadi berbagai kegaduhan atau krisis kamtibmas nasional maupun bencana alam. Pembangunan pariwisata Indonesia harus terus dilecut di tengah banyaknya tantangan bencana alam dan sosial.

Seiring dengan pemulihan situasi kamtibmas pasca Bom Bali I dan II, dunia pariwisata nasional pun semakin menggeliat. Situasi keamanan yang berangsur pulih dan ketertian masyarakat yang kian membaik membuat kunjungan wisata ke Indonesia meningkat kembali dan pendapatan nasional dan devisa negara dari sektor wisata terdongkrak kembali.

Puncak pemulihan pariwisata Indonesia tersebut mulai nampak tahun 2016. Kunjungan wisman ke Indonesia tahun 2016 mencapai 11,5 juta orang. Devisa negara yang diraup sektor pariwisata kurun waktu yang sama mencapai US$ 13,5 miliar. Kemudian kunjungan wisman ke Indonesia tahun 2017 menanjak lagi menjadi 14 juta orang naik 21,88 persen dibanding 2016.

Kemudian devisa negara yang dihasilkan sektor wisata nasional tahun 2017 mencapai US$ 16,8 miliar. Setahun kemudian, tahun 2018, kunjungan wisata ke Indonesia sudah mencapai 16,4 juta orang dan devisa negara yang diraup sektor wisata mencapai US$   16,1 miliar.

Trend peningkatan kunjungan wisata dan devisa negara dari sektor wisata tersebut membuktikan betapa pentingnya stabilitas kamtibmas dalam pembangunan pariwisata. Pemulihan kamtibas di Indonesia yang terus dilakukan pemerintah membuat wisman yang sempat menghindari Indonesia sebagai tujuan wisata kembali melirik Indonesia. Kemudian pemulihan kamtibmas di Indonesia membuat para investor juga semakin serius dan berani menanamkan saham di bidang industri pariwisata.

Menurut data Kementerian Pariwisata, realisasi investasi di sektor pariwisata tahun 2018 mencapai Rp 20,91 triliun. Sekitar Rp 12,39 triliun (59,24 persen) investasi berupa Penanaman Modal Asing (PMA) dan Rp 8,52 triliun (40,76 persen)  berupa Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

Investasi wisata tersebut tertanam di subsektor hotel dan restoran sekitar Rp 18,26 triliun (87,32 persen) dan subsektor jasa lainnya Rp 1,8 triliun (8,62 persen). Kemudian investasi di subsektor kawasan wisata mencapai Rp 778,16 miliar (3,72 persen) dan investasi di subsektor transportasi pendukung pariwisata sekitar Rp 72,13 miliar (0,35 persen).

Kemudian Presiden Jokowi juga telah mencanangkan penetapan 10 destinasi prioritas (10 “Bali Baru”) untuk mendongkrak kunjungan wisata, PDB dan devisa negara dari sektor wisata. 10 Bali Baru yang diproyeksikan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional dari sektor wisata tersebut, yakni Danau Toba Sumatera Utara, Tanjung Kelayang, Bangka Belitung, Tanjung Lesung, Banten, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Borobudur di Joglosemar, Bromo-Tengger-Semeru, Jawa Timur, Mandalika di Lombok, NTB, Komodo Labuan Bajo NTT, Wakatobi, Sulawesi Tenggara dan Morotai, Maluku Utara.

Menggeliat Kembali

Berbagai upaya pemulihan kamtibmas yang dilakukan pemerintah tersebut tentunya patut mendapat apresiasi. Berkat kerja keras pemerintah menggalang kebersamaan segenap lapisan masyarakat untuk terus menciptakan situasi kamtibmas, dunia pariwisata Indonesia yang sempat terpuruk pun kini menggeliat kembali.

Situasi kamtibmas yang semakin membaik tersebut pun perlu terus dimanfaatkan pemerintah untuk menggalang kekuatan industri pariwisata menopang pembangunan ekonomi nasional. Menurut Menteri Pariwisata, Arief Yahya, Presiden Joko Widodo menetapkan target pertumbuhan pariwisata nasional dua kali lipat tahun 2019.

Jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia yang ditargetkan tahun ini sekitar 295 juta orang, terdiri dari kunjungan wisman 20 juta  orang dan wisatawan nusantara 275 juta orang. Kontribusi sektor pariwisata terhadapPDB tahun ini ditargetkan mencapai delapan persen. Sedangkan target devisa negara dari sektor pariwisata tahun ini ditetapkan Rp 280 triliun. Jumlah tenaga kerja di bidang pariwisata yang diproyeksikan bisa terserap tahun ini sekitar 13 juta orang.

Optimisme pemeintah untuk mencapai target pembangunan pariwisata tersebut sudah mulai terlihat. Kunjungan wisman ke Indonesia Februari 2019 sudah mencapai 1,27 juta orang naik 6,12 persen dibanding jumlah kunjungan wisman ke Indonesia Februari 2018 sekitar 1,20 juta orang.  Sedangkan jumlah kunjungan wisman ke Indoesia Januari – Februari 2019 mencapai 2,48 juta orang atau naik 8,19 persen dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisman ke Indonesia periode yang sama tahun 2017 sekitar 2,30 juta orang.

Dukungan Masyarakat

Persoalannya sekarang, bisakah tercapai target pembangunan tersebut tercapai ? Jawabannya tentu tergantung kepada kemampuan bangsa Indonesia menciptakan stabilitas kamtibmas. Sepanjang kamtibmas di Indonesia terjamin, kunjungan wisman ke Indonesia akan tetap tinggi dan kunjungan wisatawan nusantara di Indonesia juga tidak akan surut.

Optimisme peningkatan kunjungan wisata ke Indonesia tersebut ada sebab Indonesia memiliki segudang objek wisata menarik dan tersebar di berbagai pelosok nusantara. Daya tarik wisata di Indonesia juga komplit mulai dari objek wisata alam, lingkungan, religi, sejarah, bisnis, kuliner dan objek wisata olah raga.

Selain itu fasilitas infrastruktur jalan, transportasi, akomodasi dan atraksi wisata di Indonesia saat ini juga semakin baik. Sebagian besar objek wisata di Indonesia saat ini semakin mudah dikunjungi melalui jalan darat, laut dan udara. Tempat-tempat penginapan mulai dari hotel melati hingga berbintang pun kini sudah tersebar di setiap daerah hingga ke daerah kabupaten.

Yang sangat dibutuhkan saat ini untuk mendukung program pemerintah di bidang pengembangan wisata tersebut, yaitu peningkatan partisipasi masyarakat menciptakan stabilitas kamtibmas di seluruh daerah di Indonesia. Sebagai langkah konkrit yang bisa diambil menciptakan stabilitas kamtibmas tersebut, warga masyarakat Indonesia dari seluruh kalangan atau elemen mesti berupaya terus mencegah dan memberantas penyusupan radikalisme dan intoleransi yang sering membuat situasi sosial Indonesia rusuh. Warga masyarakat Indonesia hendaknya tetap mempertahankan sikap toleran, rukun dan ramah penuh persaudaraan agar wisatawan semakin tertarik berkunjung ke daerah masing-masing.

Selain itu jajaran pemerintah, khususnya aparat keamanan hendaknya tetap bersikap dan bertindak proaktif mencegah dan memberantas gerakan-gerakan teroris hingga ke akar-akarnya. Hal itu penting agar kelompok – kelompok radikal dan intoleran tidak memiliki kesempatan memprovokasi masyarakat awam untuk menciptakan gerakan-gerakan atau aksi-aksi anarkisme di seluruh persada nusantara ini.

Segenap lapisan masyarakat Indonesia hendaknya semakin sadar bahwa stabilitas kemtibmas menjadi kunci utama peningkatan pembangunan pariwisata. Peningkatan pembangunan pariwisata tersebut juga berperan penting meningkatkan perkonomian nasional, daerah dan masyarakat di seluruh Tanah Air.

Kemajuan pembangunan pariwisata yang ditandai dengan meningkatnya kunjungan wisatawan akan memberikan sumber pendapatan bagi masyarakat. Pendapatan masyarakat yang bisa dipetik dari kegiatan wisata tersebut antara lain dari meningkatnya permintaan hasil usaha ekonomi kreatif seperti kerajinan sebagai cendera mata, kuliner atau makanan serta sektor jasa penginapan, transportasi dan sebagainya.

Dukungan segenap lapisan masyarakat terhadap penciptaan stabilitas kamtibas dalam rangka percepatan pembangunan pariwisata ini tentunya juga salah satu bentuk apresiasi masyarakat terhadap perjuangan tanpa henti pemerintah memacu pembangunan pariwisata di tengah seringnya terjadi kegaduhan nasional. Semoga.***(Penulis alumni Sekolah Tingga Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung dan kini bekerja sebagai wartawan Harian Umum Suara Pembaruan dan BeritaSatu.Com Jakarta di Provinsi Jambi).

LEAVE A REPLY