Untung Kita Berbeda

0
48
Sahalatua Saragih-Bersama Mantan Mahasiswanya.(Foto-FB)

Oleh: S. Sahala Tua Saragih

Jambipos-Pada suatu hari telapak kaki memprotes Tuhan, Sang Khalik (Maha Pencipta). “Tuhan, sungguh Engkau tidak adil. Mengapa aku terus di bawah? Mengapa tugasku hanya menginjak kotoran, lumpur, batu, bahkan menginjak duri, dan menginjak benda-benda keras lainnya? Sewaktu mandi aku tak pernah atau sangat jarang disabun dan digosok hingga bersih. Padahal aku baru dipaksa menginjak lumpur dan debu hitam pekat. Mengapa Tuhan memanjakan rambut? Ia selalu di atas.

Setiap mandi ia selalu dicuci bersih, lalu dikeringkan dengan handuk dan pengering rambut. Ia sering diberi minyak pengharum. Bahkan ia rutin dipercantik dan dirawat di salon dengan biaya mahal. Kami ‘kan sama-sama ciptaan-Mu, tetapi mengapa Tuhan menganakemaskan rambut? Tuhan harus adil, dong!”

Pada suatu pagi tangan kiri mengajukan protes keras kepada Tuhan, Sang Khalik. “Tuhan, mengapa aku Engkau jadikan tangan kiri, dan bukan tangan kanan. Tangan kanan selalu digunakan bersalaman sementara aku cuma menonton.

Mengapa memberi hormat hanya tangan kanan? Mengapa membersihkan yang kotor harus aku sementara tangan kanan hanya menonton? Mengapa memberi dan menerima sesuatu dari orang lain mesti tangan kanan? Mengapa bukan aku yang melakukannya? Aku protes keras. Tuhan mesti berlaku adil, dong!”

Ada sebuah cerita tentang pemilihan Sintua (Penatua) di sebuah jemaat dahulu kala. Warga jemaat senior itu sudah dua periode (sepuluh tahun) menjadi Syamas (Diaken) namun dalam pemilihan Sintua dia tak terpilih. Lalu dia memprotes jemaat, Pemimpin Majelis Jemaat, bahkan memprotes Tuhan.

Mereka semua dianggap tidak adil. Katanya dengan nada sangat kesal dan kecewa, “Mengapa si A baru satu periode jadi Syamas sudah terpilih jadi Sintua, mengapa aku tidak? Mengapa si B yang malas sermon terpilih jadi Sintua sementara aku yang sangat rajin sermon kalah?

Mengapa si C yang tak pernah mau berkhotbah di partonggoan sektor dipilih jadi Sintua sementara aku yang rutin berkhotbah di sektor tak dipilih? Jemaat ini benar-benar-tidak adil. Aku sangat kecewa melihat jemaat ini. Tuhanpun sungguh tak adil. Apa artinya kesetiaanku melayani-Mu selama ini, Tuhan? ”

Kurang-lebih 2.000 tahun sebelum Syamas senior itu melontarkan protesnya, Rasul Paulus sudah mengirim surat penggembalaan kepada jemaat Efesus. Para pelayan dan warga jemaat itu beraneka. Asal usul mereka berbeda-beda. Ras atau suku bangsa mereka berbeda-beda.

Paulus menasihati mereka agar tetap bersatu dan menyatu. Mereka mesti mau saling mengakui, menerima, dan menghormati perbedaan sesama pelayan dan warga jemaat. Seperti halnya organ-organ tubuh yang sangat banyak dan berbeda-beda namun mereka semua bersatu, menyatu atau terpadu di bawah kendali otak. Demikian pula jemaat Efesus, meski berbeda-beda namun mereka mesti terpadu dengan harmonis di bawah komando Yesus Kristus.

Mereka semua adalah organ-organ tubuh Kristus.
Paulus menulis demikian, “Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.” (Efesus 4: 7).

Paulus juga menulis begini, “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.: (Efesus 4: 11-12).

Di bagin lain suratnya, Paulus menulis demikian, “Daripada-Nyalah seluruh tubuh – yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota – menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih (Efesus 4: 16).

Untung kita berbeda-beda talenta. Coba bayangkan bila kita semua memiliki talenta atau bakat dan kemampuan yang sama. Apa jadinya? Bayangkan bila semua guru di sebuah SMP hanya menguasai satu mata pelajaran. Apa jadinya? Telapak kaki tak usah iri melihat rambut. Tangan kiri tak usah iri terhadap tangan kanan. Setiap organ tubuh sudah diberi tugas pokok dan fungsi masing-masing.

Demikian pula kita. Kita jangan pernah iri terhadap orang yang bertalenta besar dalam bernyanyi, bermain musik, berbicara, menulis, berbahasa, berkhotbah, berdoa, memimpin, dan pelayanan-pelayanan lainnya.

Kita tak perlu iri melihat orang-orang yang dianugeri Tuhan banyak berkat sementara kita merasa tak diberi banyak berkat. Sejarah membuktikan, iri hati tak pernah membuahkan kebaikan atau keuntungan, tetapi keirian justru menghasilkan keburukan, bahkan kejahatan dan kekejian.

Meski Tuhan menganugerahi kita satu atau dua talenta saja, bila kita mensyukurinya, tekun memelihara dan mengembangkannya, kita niscaya dipakai Tuhan sebagai saluran berkat-Nya bagi banyak orang di manapun, tidak hanya sesama Kristen.

Bila kita diberi-Nya lima talenta, janganlah pernah tinggi hati, menganggap kecil orang yang punya satu atau dua talenta saja. Orang sombong pasti direndahkan Tuhan. Pelihara, kembangkan, dan gunakanlah kelima talenta tersebut dengan sebaik-baiknya.

Kita mesti mau dengan tulus dan penuh sukacita sebagai saluran berkat Tuhan kepada orang-orang yang membutuhkannya, baik yang seiman maupun tak seiman. Semua kita mesti mau dengan senang hati saling memberi dan menerima berapapun talenta yang kita miliki. Kita wajib saling mengasihi apapun status kita.

Seperti lirik lagu rohani yang sangat tersohor itu, “Hidup ini harus jadi berkat. Hidup ini sudah jadi berkat.”(JP-Penulis Adalah Dosen UNPAD)

 

Sumber: FB Sahalatua Saragih

LEAVE A REPLY