counter easy hit Agroindustri Kopi Kerinci, Bangkit di Tengah Pandemi - JambiPos.id

Agroindustri Kopi Kerinci, Bangkit di Tengah Pandemi

Jambipos, Jambi-Komoditas perkebunan kopi jenis Arabika Specialty kini menjadi primadona bagi para petani kopi di Kabupaten Kerinci. Para petani kopi di daerah pegunungan yang memiliki luas wilayah sekitar 3.355,27 kilometer persegi (km2) tersebut kini berlomba-lomba menanam kopi unggul jenis Arabika.

Tingginya minat petani kopi di Kerinci menanam kopi jenis Arabika tak terlepas dari keberhasilan pengembangan agroindustri kopi kualitas ekspor tersebut selama 3 tahun terakhir. Para petani kopi di Kerinci berhasil mengembangkan kopi jenis Arabika melalui kerja sama dengan lembaga nirlaba, yakni lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam dan luar negeri.

Dua LSM yang sudah lebih tiga tahun mendampingi para petani kopi Kerinci mengembangkan kopi jenis Araika, yaitu LSM Rikolto asal Belgia dan LSM Green Development (Greendev), anggota Konsorsium Sumatera Sustainable Support (SSS) Pundi Sumatera.

Bupati Kerinci, Adirozal di Kerinci, baru-baru ini mengatakan, kerja sama petani Kerinci dengan LSM Rikolto untuk mengembangkan kopi jenis Arabika sudah terjalin sejak 2017. LSM Rikolto memberdayakan sekitar 320 kepala keluarga (KK) petani kopi Kerinci yang tergabung dalam kelompok tani (KT) dan KOperasi Unit Desa (KUD) Koerinjti Barokah. Luas areal perkebunan kopi jenis Arabika yang digarap para petani kopi Kerinci tersebut mencapai 140 hektare (ha).

LSM Rikolto Belgia memberikan bimbingan dan fasilitas budidaya kopi unggul jenis Arabika kepada para petani Kerinci tersebut mulai dari penentuan lokasi lahan, pengolahan lahan, pemilihan bibit, pennanaman, pemupukan, panen, penanganan pasca panen dan pemasaran atau ekspor.

Menurut Adirozal, kerja sama petani Kerinci dengan LSM Rikolto tersebut pun kini berbuah manis. Harga kopi di Kerinci mulai terdongkrak. Sebelum adanya kerja sama dengan LSM Rikolto Belgia, para petani di Kecamatan Kayuaro dan Danau Gunung Tujuh, Kerinci hanya bisa menjual biji kopi antara Rp 4.000,-/Kg hingga Rp 7.500/Kg. Setelah adanya kerja sama tersebut, harga kopi di Kayuaro naik menjadi Rp 20.000/kg.

“Terdongkraknya harga kopi di Kerinci tersebut tak terlepas dari bantuan LSM Rikolto untuk memberdayakan petani kopi Kerinci mengenai pengolahan kopi yang berkualitas. Selain itu LSM Rikolto Belgia juga membuka jalur ekspor kopi Kerinci ke Belgia dan ke beberapa negara Eropa. Ekspor kopi Kerinci tersebut ditangani langsung para petani melalui KUD Koerintji Barokah Bersama,”ujarya.

Dijelaskan, KUD Koerintji Barokah memiliki izin Eksportir Terdaftar Kopi (ETK) dari Direktur Jenderal (Dirjen) Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan melalui Surat Keputusan (SK) Nomor 02.ETK-02.19.0211 tahun 2019.

“Berdasarkan izin tersebut, KUD Koerintji Barokah bisa mengekspor kopi langsung kepada perusahaan kopi di Kota Antwerp, Belgia,” katanya.

Selain LSM Rikolto, lanjut Adi Rozal, ada juga lembaga nirlaba lain yang membantu petanikopi Kerinci mengembangkan kopi Arabika, yaitu LSM Green Development (Greendev) yang merupakan anggota Konsorsium Sumatera Sustainable Support (SSS) Pundi Sumatera.

LSM tersebut membina sebanyak 100 KK petani kopi yang tergabung dalam KT Sumber Rezeki dan KT Telang Kuning di Desa Pasar Minggu, Kecamatan Kayuaro, Kerinci. Luas areal kawasan perkebunan kopi yang dikelola para petani kopi tersebut mencapai 100 ha. Sedangkan luas arela kebun kopi yang tersedia di desa mencapai 510,5 ha.

Ekspor Perdana
Adi Rozal mengatakan, hasil panen kopi jenis unggul dari Kerinci kini mulai menembus pasar Eropa dan Asia. Ekspor kopi jenis Arabika produksi KT Koerintji Barokah tersebut justru berhasil dilakukan di tengah kelesuan ekonomi dunia dan Indonesia akibat pandemi Covid-19.

Dikatakan, ekspor perdana kopi sekitar 15,9 ton biji kopi kering jenis Arabika Kerinci produksi KT Koerintji Barokah ke Belgia dilakukan Selasa (28/7) melalui pelabuhan Talang Duku, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi.

Kemudian ekspor kopi jenis Arabika dari daerah berpenduduk sekitar 237.791 jiwa tersebut juga berhasil menembus pasar Jepang. Sekitar 2,1 ton kopi jenis Arabika Kerinci diekspor ke Jepang melalui pelabuhan Talang Duku, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, Jumat (23/10). Ekspor kopi yang dilakukan KUD Koerintji Barokah tersebut merupakan kedua kalinya dalam situasi pandemi Covid-19 tahun ini.

Sementara itu, Penjabat Sementara (Pjs) Gubernur Jambi, Restuardy Daud ketika melepas ekspor kopi Kerinci ke Jepang secara virtual di rumah dinas Gubernur Jambi, Kota Jambi, Jumat (23/10) menjelaskan, ekspor kopi Kerinci di tengah pandemi tersebut sangat membanggakan. Disebut membanggakan karena Jambi mampu membuka pasar ekspor kopi dan mendorong ekspor produk unggulan Jambi di tengah pasar yang belum begitu pulih akibat pandemi Covid-19.

“Ekspor kopi arabika Kerinci ini merupakan kegiatan yang inovatif, kreatif dan solutif (member solusi) dalam rangka mencari peluang dan tujuan pemasaran baru bagi komoditas pertanian di Provinsi Jambi. Semoga momen ini menjadi kebangkitan usaha kopi di Provinsi Jambi, terutama dalam menggerakkan perekonomian di tengah dampak Covid-19,”katanya.

Restuardy Daud mengatakan, terbukanya keran ekspor kopi Kerinci ke Belgia (Eropa) dan Jepang (Asia) diharapkan memberikan dampak positif terhadap peningkatan nilai jual dan nilai tambah kopi Kerinci serta menunjukkan kualitas kopi Kerinci sangat layak di pasar global.

Untuk itu, lanjut Restuardy Daud, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kerinci, Pemprov Jambi, dinas instansi terkait dan kalangan eksportir di Jambi diharapkan mendukung petani kopi dengan menciptakan iklim usaha yang lebih baik melalui kemudahan prosedur perizinan dan mendorong harga kopi di Jambi agar semakin kompetitif.

“Kami bersama pihak terkait, terus melakukan pendampingan kepada para petani kopi untuk senantiasa menjaga dan mempertahankan kualitas komoditi kopi, Hal itu penting untuk menjaga kepercayaan pihak pembeli atau konsumen kopi Kerinci di luar negeri,”ujarnya.

Dijelaskan, kopi Kerinci memiliki peluang ekspor yang sangat besar di masa mendatang karena telah memiliki sertifikat Indikasi Geografis Kopi Arabika Sumatera Koerintji. Sertifikasi tersebut merupakan salah satu jaminan keaslian produk kopi Kerinci, sehingga kepercayaan pembeli (konsumen) kopi Kerinci, terutama dari luar negeri tetap terjaga.

“Produk kopi jenis Arabika Kerinci produksi KT dan KUD Koerintji Barokah Bersama ini juga mendapat peluang pasar yang luas di Eropa karena pengembangan perkebunan kopi yang dikelola 320 petani Kerinci tersebut ramah lingkungan,”katanya.

Petani Bangga
Keberhasilan pengembangan perkebunan dan ekspor kopi Arabika Kerinci tersebut membuat para petani kopi Kerinci bangga. Ketua Koperasi Koerintji Barokah Kerinci, Triyono mengatakan, usaha perkebunan kopi yang mereka lakukan sebelum menjalin kerja sama dengan LSM Rikolto Belgia masih ersifat tradisional.

Para petani kopi di Kerinci selama ini lebih banyak menanam kopi jenis lokal dan tidak mengelolanya dengan baik. Kemudian pemasaran kopi petani juga dilakukan secara tradisional melalui tengkulak. Pola perkebuan kopi tersebut membuat produksi rendah dan hasil panen kurang berkualitas dan hargapun rendah.

Namun setelah menjalin kerja sama dengan LSM Rikolto Belgia, budi daya kopi mereka lakukan secara professional mulai daripembukaan dan pengelolaan lahan, penanaman, pemeliharaan, paden hingga penanganan pascapanen.

Kini para petani kopi Kerinci yang tergabung dalam KT dan KUD Koerintji Barokah konsisten mempertahankan kualitas kopi. Mereka terus terus berinovasi untuk meningkatkan produksi dan kualitas kopi.

“Strategi tersebut lah yang membuat kopi kami unggul hingga sekarang dan kualitasnya dipercaya konsumen hingga ke Eropa. Kualitas kopi inilah yang membuat kopi Arabika Kerinci bisa bertahan di tengah pandemi Covid-19 ini,”katanya.

Triyono mengharapkan, jumlah petani di Kerinci yang mengembangkan kopi jenis Arabika kualitas ekspor semakin bertambah, sehingga luas areal dan produksi kopi Arabika Kerinci terus meningkat. Para petani kopi di Kerinci juga diharapkan semakin banyak menekuni budidaya kopi jenis Arabika karena hasilnya memuaskan.

Petani kopi anggota KT dan KUD Koerintji Barokah yang mengembangkan kopi kualitas ekspor kini bisa mencapai rata-rata Rp 10 juta per bulan. Sebelumnya penghasilan petani rata-rata di bawah Rp 5 juta/bulan.

“Kami berharap semakin banyak petani kopi Arabika di Kerinci agar produksi bisa berambah. Peningkatan produksi kopi Arabika Kerinci perlu terus ditingkatkan agar kami bisa memenuhi permintaan pasar dalam negeri dan luar negeri. Kami juga berharap petani kopi Kerinci bisa meningkatkan penghasilan melalui usaha kopi jenis Arabika ini,”tambahnya.

Secara terpisah, Halimin (55), seorang petani kopi Desa Pasar Minggu, Kayuaro mengatakan, pengembangan kopi subvarietas Arabika di daerah itu memiliki prospek yang bagus. Tanah di daerah tersebut subur, benih sudah tersedia, pemasaran lebih mudah dan bapak angkat petani sudah ada.

“Saya sudah menanam kopi Arabika ini seluas satu hektare sejak tiga tahun lalu. Kopi tersebut sudah panen. Harga kopi di Kerinci saat ini juga lumayan. Harga kopi yang baru panen mencapai Rp 8000/kg dan harga buah kopi yang sudah kering mencapai Rp 120.000/kg,”katanya.

Sementara itu, Direktur Regional Rikolto di Indonesia, Catur Utami Dewi pada pelepasan ekspor kopi Kerinci ke Belgia baru-baru ini mengatakan, pihaknya tertarik membina petani kopi Kerinci untuk mengembangkan kopi jenis Arabika sekaligus membuka peluang ekspor karena kopi Kayuaro Kerinci dinilai memiliki kualitas kelas dunia dan sudah sering disertakan dalam berbagai perlombaan kopi tingkat internasional.

Selain itu, LSM Rikolto juga ingin meningkatkan kesejahteraan para petani kopi Kerinci yang selama ini terelenmggu kemiskinana akibat produksi dan harga kopi yang selalu rendah. Akhirnya melalui kerja sama dengan LSM Rikolto, para petani kopi Kerinci bisa bangkit. Meeka memiliki kebun kopi yang luas dan terawatt, produksi tinggi dan berkualitas, ekspor terbuka dan harga kopi pettani juga terdongkrak.

“Kami bangga melihat keberhasilan KT dan KUD Koerintji Barokah yang kini berhasil mengembangkan agribisnis kopi. Kualitas produksi kopi petani Kerinci tersebut terjamin dan diterima konsumen kopi Eropa. Selain itu penghasilan petani kopi Kerinci juga kini terdongkrak berkat kopi Arabika kualitas ekspor ini,”katanya.

Areal Diperluas
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Kerinci, luas areal perkebunan kopi jenis Arabika di Kabupaten Kerinci saat ini mencapai 2.200 ha dengan produksi rata-rata 700 ton/tahun. Perkebunan kopi tersebut terdiri dari milik masyarakat sekitar 900 ha dan PT Perkebunan Nusantara VI Jambi-Sumatera Barat sekitar 500 ha.

Efrawadi mengatakan, perluasan areal perkebunan kopi di daerah itu terus dilakukan menyusul keberhasilan pengembangan perkebunan kopi yang dilakukan para petani petani kopi Kerinci binaan LSM Rikolto Belgia. Untuk tahun 2020, areal perkebunan kopi jenis Arabika di Kerinci diperluas sekitar 500 ha lagi. Perluasan areal kebun kopi itu didanai Kementerian Pertanian.

“Perkebunan kopi tersebut dikelola 37 kelompok tani di 16 kecamatan di Kabupaten Kerinci. Kopi yang dikembangkan khusus jenis Arabika Spesialti seperti yang telah dikembangkan KT Koerinttji Barokah Bersama selama ini,” katanya.

Efrawadi mengatakan, ekspor kopi Arabika dari Kerinci juga sudah ke Hong Kong dan Amerika Serikat melalui Medan, Sumut. Sedangkan ekspor ke Belgia langsung dari Jambi.(JP_SP)

Recommended For You