counter easy hitMedia Sosial Strategis untuk Sosialisasi Bahaya Narkoba - JambiPos.id

Media Sosial Strategis untuk Sosialisasi Bahaya Narkoba

Jambipos, Jakarta – Badan Narkotika Nasional (BNN) perlu mengintensifkan sosialisasi bahaya narkoba. Saluran sosialisasi yang dianggap penting dan efektif saat ini adalah media sosial (medsos) yang penggunanya terus bertumbuh.

Hal tersebut disampaikan anggota Kelompok Ahli BNN Primus Dorimulu dalam diskusi bertemu “Peran Media Sosial dalam Gerakan Anti-Narkotika” yang digelar Kelompok Ahli BNN di Gedung BeritaSatu Plaza, Jakarta, Kamis (28/2/2019).

Primus Dorimulu memaparkan hasil survei yang dilakukan Hootsuite yang berbasis di Kanada. Hasil survei per Januari 2019 tersebut menunjukkan Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna medsos tertinggi di dunia, yakni sekitar 150 juta atau 56% dari total penduduk. Jumlah pengguna medsos tersebut sama dengan pengguna internet aktif di Indonesia, yakni 150 juta orang, di mana 142 juta di antaranya mengakses internet melalui layanan bergerak (mobile).

Berkaca dari survei tersebut, menurut Primus Dorimulu, BNN perlu menyosialisasikan bahaya narkoba melalui saluran medsos, selain mengunakan media arus utama. BNN bisa memanfaatkan medsos, seperti Facebook, Instagram, Twitter, WhattApp, Line, dan lainnya, sebagai sarana untuk menyosialisasikan program antinarkotika.

“Perkembangan medsos yang begitu meluas ini memberi dampak positif dan negatif. Jadi, BNN harus memiliki tim medsos yang kuat untuk menyebarluaskan berbagai hal positif,” kata Primus Dorimulu.

Dari platform medsos yang ada, Primus Dorimulu menyebutkan, Facebook menjadi favorit dengan 130 juta pengguna di Indonesia, disusul Instagram dengan 62 juta pengguna, dan Twitter dengan 6,43 juta pengguna. Pengguna masing-masing platform tersebut terus bertumbuh setiap tahun.

Konten-konten yang penting untuk disosialisasikan melalui medsos, antara lain testimoni orang-orang terkendal mengenai bahaya narkoba, bahaya narkoba bagi anak dan remaja, ajakan untuk tidak takut melaporkan jika ada anggota keluarga yang menjadi pengguna narkoba, manfaat rehabilitas pengguna, serta pemahamanan bahwa Indonesia kini menjadi pasar narkotika dan jenis-jenis baru barang haram tersebut.

Dari survei yang sama, Primus Dorimulu mengungkapkan, pengguna medsos terbanyak di Indonesia adalah pada kelompok umur 18 tahun hingga 34 tahun. “Oleh karena itu, konten yang ditawarkan untuk menyosialisasikan bahaya narkotika lewat medsos adalah testimoni dari orang-orang terkenal, misalnya, mereka yang dulu menjadi pemakai, sekarang sudah bertobat. Juga penting menyebarluaskan posisi Indonesia yang saat ini menjadi target utama pasar nakotika dunia,” jelasnya.

Primus Dorimulu menekankan, salah satu persoalan pelik yang dihadapi adalah sikap orangtua atau keluarga yang cenderung protektif terhadap anggota keluarganya yang terpapar narkoba. Sikap yang dilatari perasaan malu dengan lingkungan ini dinilai justru membuat pengguna sulit direhabilitasi. Padahal, hal terpenting yang harus dilakukan adalah merehabilitasi para pengguna.

“Di sini pentingnya sosialisasi kepada para orangtua untuk berani melaporkan jika ada anak atau anggota keluarga yang pengguna narkoba,” jelas Primus Dorimulu.

Sumber: Suara Pembaruan

Recommended For You