counter easy hitMemahami Eksternalitas Negatif Akibat Sampah Plastik - JambiPos.id

Memahami Eksternalitas Negatif Akibat Sampah Plastik

Jambipos-Dalam kehidupan sehari-hari, hampir setiap orang menggunakan plastik, baik untuk kegiatan produksi atau pun untuk kegiatan konsumsi dan kebanyakan plastik-plastik tersebut digunakan untuk sekali pakai seperti kantong plastik, botol plastik serta kemasan plastik suatu produk. Kita ketahui bahwa plastik membutuhkan waktu yang cukup lama untuk terurai (umumnya 50-100 tahun), sehingga jika terus digunakan dapat menimbulkan masalah lingkungan bahkan sosial.

Kepedulian masyarakat terhadap sampah masih sangat rendah, terutama terhadap sampah plastik. Seperti, masih banyaknya masyarakat menggunakan kantong plastik sekali pakai untuk berbelanja, mengonsumsi minuman dengan botol plastik dan banyak kegiatan-kegiatan yang menggunakan plastik.

Setelah menggunakan plastik tersebut, masyarakat pada umumnya langsung membuangnya dan ironisnya ada yang membuang secara sembarang. Seperti berita viral pada awal tahun 2019 mengenai penemuan bungkus plastik mie instan yang berusia 19 tahun di pantai sendang biru, Malang, Jawa Timur dan berita miris lainnya yaitu sampah plastik Indonesia terkirim hingga Thailand, berita tersebut diupload oleh seorang warga Indonesia yang sedang tinggal di Thailand. Sampah-sampah tersebut ditemukakan di pesisir pantai Nai Yang (11/8/2019).

Hal yang patut kita perhatikan, bahwa Indonesia menjadi penghasil limbah laut terbesar kedua setelah Cina. Penggunaan sampah plastik di Indonesia sekitar 9,8 milyar per tahun dan berakhir di sungai serta laut. Berdasarkan data Asosiasi Industri Plastik Indonesia sampah Indonesia berjumlah 64 ton per tahun, dimana 3,2 juta ton limbah plastik yang dibuang ke laut.

Hal ini tentunya menimbulkan eksternalitas negatif. Apa itu eksternalitas? Eksternalitas adalah efek samping dari suatu tindakan pihak tertentu terhadap pihak lain, baik dampaknya menguntungkan (Eksternalitas Positif) maupun merugikan (Eksternalitas Negatif), namun pihak tertentu tersebut tidak menanggung biaya dari kegiatannya. Eksternalitas juga sebagai contoh dari kegagalan pasar dan pertanyaan pentingnya adalah kapan pemerintah harus campur tangan? Jawabannya yaitu pada saat kegagalan pasar tersebut.

Sampah plastik merupakan contoh dari eksternalitas negatif dari konsumsi, dampak negatif dari konsumsi plastik dirasakan oleh orang-orang di sekitar pengguna plastik dan kerugian yang dirasakan tidak diberi kompensasi. Contohnya pada februari 2018 lalu, akun Twitter @mozafemimoza mengunggah video yang memperlihatkan seorang wanita tengah membuang sampah di laut Donggala, Sulawesi Tengah.

Dalam video tersebut, terekam wanita yang mengenakan baju berwarna cokelat berjalan sambil menyeret tong berisi sampah. Sambil terombang-ambing ombak, ia kemudian membalikkan isi tong ke dalam laut, dimana juga terdapat sampah plastik dalam tong tersebut.

Pembuangan sampah ke laut tersebut memberikan dampak negatif baik bagi habitat yang hidup di laut, lingkungan laut maupun warga sekitar serta nelayan. Ikan-ikan yang menjadi sumber pendapatan para nelayan bisa berkurang bahkan mati akibat ikan-ikan yang memakan sampah plastik atau pun tempat habitatnya yang tercemari oleh sampah tersebut.

Solusi yang dapat dilakukan sektor swasta/perusahaan untuk eksternalitas negatif yaitu dengan Solusi Coase yang dapat berjalan efektif apabila pihak-pihak yang berkepentingan dapat melakukan negosiasi penanggulangan eksternalitas yang ada diantara mereka, tanpa menimbulkan biaya khusus yang memberatkan alokasi sumber daya yang sudah ada.

Para nelayan dan wanita tersebut dapat bernegosiasi untuk mencari jalan keluarnya, seperti wanita tersebut membayar kerugian yang ditanggung para nelayan atau pembayaran para nelayan untuk pembuatan tempat pembuangan sampah kepada wanita tersebut. Negosiasi atau pun pembayaran diantara kedua pihak ini mempunyai efek yang sama untuk mengatasi eksternalitas negatif.

Penanggulangan sektor pemerintah (public sektor) untuk eksternalitas, pembuatan kebijakan publik tidak menganggap bahwa Solusi Coase cukup untuk menangani masalah eksternalitas dalam skala besar. Pembuatan kebijakan publik membuat tiga tipe penyelesaian masalah eksternalitas negatif, seperti koreksi perpajakan, subsidi dan regulasi.

Menurut opini saya untuk mengatasi eksternalitas negatif ini, pemerintah dapat menerapkan regulasi baik kepada produsen maupun konsumen (masyarakat), seperti pembatasan produksi plastik serta konsumsi plastik selain itu pemerintah juga harus mencari substitusi pengganti plastik, seperti mengganti kebiasaan masyarakat dari menggunakan botol plastik kemasan sekali pakai menjadi menggunakan tumbler.

Sosialisasi oleh pemerintah kepada masyarakat mengenai lingkungan dan bahaya penggunaan plastik juga sangat penting, melalui edukasi tersebut dapat mengubah pola pikir dan pola perilaku masyarakat sehingga sampah plastik dapat berkurang.

Opini saya yang ketiga yaitu pemerintah harus dapat menyediakan barang publik berupa tempat pembuangan sampah dimasing-masing lingkungan atau RT/RW tempat tinggal masyarakat, sehingga masyarakat dapat membuang sampah ditempat seharusnya, hal tersebut dapat meningkatkan eksternalitas positif yaitu masyarakat tidak membuat sampah secara sembarangan ke sungai atau laut serta kuantitas sampah plastik pun juga berkurang.(JP-Penulis Adalah Mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN)

 

Recommended For You