counter easy hit Orang Pajak Ke Sekolah ? Mau Ngapain Ya ? - JambiPos.id

Orang Pajak Ke Sekolah ? Mau Ngapain Ya ?

Jambipos-Seperti yang kita ketahui dalam struktur APBN, Perpajakan adalah sumber penerimaan negara yang mempunyai kontribusi paling besar. Sebagai sumber penerimaan, Pajak mempunyai peran  yang sangat vital dalam kehidupan bernegara, seperti membiayai pembangunan, Pendidikan, dana desa dan lain-lain. Untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya pajak, DJP melakukan Berbagai macam kegiatan, salah satunya adalah strategi inklusi kesadaran pajak.

Apasih inklusi kesadaran pajak ? Inklusi Kesadaran Pajak diawali dari Nota Kerjasama (MoU)  antara Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dengan Kemendikbud dan Kemenristek Dikti selaku pihak yang membidangi Pendidikan, pada tahun 2016. Inklusi kesadaran pajak itu sendiri merupakan suatu program untuk menanamkan kesadaran pajak kepada peserta didik dan tenaga pendidik (dosen) melalui integrasi materi kesadaran pajak dalam pendidikan.

Nantinya, inklusi kesadaran pajak pada pendidikan tinggi ini akan disampaikan oleh Dosen-Dosen Mata Kuliah Wajib Umum (MKWU) kepada peserta didik mereka. Proses pembelajaran pajak dilakukan dengan menyisipkan materi pajak ke dalam MKWU yaitu pada mata kuliah Pancasila, Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, dan Agama.

Lalu apa hubungannya dengan orang pajak ke sekolah ? Dengan adanya strategi inklusi kesadaran pajak tersebut, maka seperti yang kita lihat banyak pegawai pajak di seluruh Indonesia yang sering datang kesekolah-sekolah. Mereka melakukan kegiatan penyuluhan perpajakan kesekolah sekolah salah satunya adalah kegiatan pajak bertutur. Pada taggal 22 November 2019 kemarin, DJP melaksanakan Pajak Bertutur secara serentak diseluruh Indonesia.

Pajak Bertutur

Pajak bertutur merupakan kegiatan mengajar tentang kesadaran pajak pada semua jenjang pendidikan yang dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia. Gelaran ini merupakan salah satu realisasi Inklusi kesadaran pajak yang diprakarsai oleh DJP. Tujuan utama dari Pajak Bertutur adalah menanamkan kesadaran pajak sejak dini serta keinginan DJP untuk mengedukasi generasi muda sebagai calon pelaku ekonomi masa depan yang mempunyai kesadaran pajak. Pajak bertutur sudah dilaksanakan sejak tahun 2017.

Hal ini merupakan realisasi dari salah satu Rencana Strategis DJP yaitu, Meluncurkan Strategi Komunikasi Terpadu. Pada tahun 2019, Pajak Bertutur menitik beratkan perhatian pada peserta didik dan guru tingkat dasar dan menengah. DJP sangat serius dalam upaya untuk meningkatkan kesadaran pajak terhadap masyarakat khususnya kalangan muda karena seperti yang kita tau Indonesia sedang mendapat bonus demografi yang harus dimanfaatkan dengan baik.

Rekan rekan dari kantor pajak datang ke sekolah sekolah dengan penuh ambisi dan harapan.

Ambisi dari kegiatan pajak bertutur adalah mempersiapkan generasi yang memiliki kesadaran pajak yang lebih baik. Menciptakan generasi yang sadar pajak agar dapat membantu negara dalam memajukan perekonomian negara dimasa depan.

Harapannya yaitu menumbuhkan rasa nasionalisme dalam hati setiap generasi muda. Pemerintah tidak dapat membangun negara ini sendiri, Peran masyarakat sangat dibutuhkan. Masyarakat dapat membantu negara ini dengan berbagai macam cara, salah satunya dengan mau dan patuh dalam menjalankan kewajiban perpajakannya.

Sesungguhkan uang pajak yang mereka bayarkan digunakan untuk kepentingan masyarakat luas, yang mana salah satu fungsi perpajakan yaitu redistribusi pendapatan. Seseorang yang membayar pajak akan menghasilkan sebuah eksternalitas positif, dimana Saat seseorang membayar pajak secara tidak langsung orang tersebut membantu jutaan orang yang ada di Indonesia. Bisa dibayangkan jika setiap warga negara menyadari pentingnya pajak, pasti akan tercipta Indonesia yang kuat dan maju.

Kesan Pajak Bertutur

Pada awal kegiatan pajak bertutur, banyak pihak yang merasa bingung. Ada keperluan apa orang pajak datang kesekolah. Namun seiring berjalannya waktu, para guru menyambut baik dengan adanya kegiatan ini. Mereka mengaku senang dengan kedatangan rekan rekan dari pajak, karena dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada para peserta didik tentang perpajakan. Mereka bisa menjelaskan sedikit tentang dasar dasar dalam bidang perpajakan tetapi tidak seluas informasi yang rekan rekan dari pajak berikan.

Dari sisi peserta didik, mereka sangat senang dan antusias dalam mengikuti kegiatan pajak bertutur. Kegiatan biasanya dibalut dengan permainan yang menyenangkan. Materi pajak yang kesannya berat dan seram jadi terlihat seru dan menyenangkan.

Materi disesuaikan dengan tingkat Pendidikan peserta didik. Biasanya, Semakin tinggi tingkat Pendidikan maka semakin kritis pesertanya dan memunculkan banyak tanya jawab. Justru ini adalah indikasi yang bagus karena rasa ingin tau yang kuat dalam diri setiap peserta didik tentang perpajakan. Hal yang ditanyakan beragam mulai dari apa sih pajak  hingga bagaimana pelaksanaan teknisnya dilapangan.

Fakta dan Permasalahan

Sebagaimana diketahui bersama bahwa denyut nadi pembangunan di Indonesia bersumber dari APBN yang sebagian besar (sekitar 76%) ditopang dari penerimaan perpajakan. Namun, berdasarkan data: selama kurun waktu 2009-2018, penerimaan pajak belum pernah mencapai 100% dari target yang ditetapkan; tingkat kepatuhan perpajakan (formal dan material) masih rendah; masih banyaknya potensi ekonomi nasional yang belum tergali; masyarakat yang masih memandang DJP sebagai instansi yang kurang dipercaya.

Data tersebut muncul diakibatkan oleh banyak faktor. Disini kita coba liat permasalahan yang ada di masyarakat. Masih banyak masyarakat yang belum mengetahui pentingnya pajak. Ada beberapa penyebab yang biasa dikemukakan antara lain, kurangnya sosialisasi tentang perpajakan kepada masyarakat, takut jika datang ke kantor pajak, dan tidak adanya pelajaran atau menyinggung tentang perpajakan dari kecil. Mereka kebanyakan baru mengetahui tentang perpajakan saat sudah dewasa atau bekerja.

Masukan yang membangun

Untuk mewujudkan negara yang maju dan kuat, Negara dalam hal ini DJP harus mampu meningkatkan kesadaran pajak di masyarakat. Hal itu dapat dilakukan dengan mengenalkan tentang perpajakan sejak bangku sekolah. Pengenalan pajak ini bisa berupa memunculkan  materi perpajakan dalam kurikulum pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik sudah mengetahui perannya dalam pembangunan negara.

Bagaimana jika saat melakukan pajak bertutur kepada para peserta didik, DJP melalui pihak sekolah mengundang para orang tua murid untuk mengikuti acara tersebut. Hal ini bertujuan untuk memberi kesan yang mendalam kepada peserta acara dan mereka dapat membahas lagi saat berada dirumah masing masing.

Sosialisasi juga dilakukan kepada para perangkat sekolah guna memfasilitasi penyebaran informasi tentang perpajakan. Agar guru dapat menciptakan generasi yang mempunyai jiwa nasionalisme.

Masukan bagi internal DJP adalah DJP harus mempu membuktikan bahwa mereka adalah instansi yang dapat dipercaya. Instansi yang bersih dari praktik KKN, Instansi yang memberikan pelayanan prima kepada msyarakat, serta Instansi yang berintegritas. Dengan  munculnya rasa percaya dari masyarakat maka mereka akan semakin mudah dalam menjalankan tugasnya sebagai instansi penghimpun penerimaan negara terbaik.

Semoga dengan masukan yang membangun ini dapat meningkatkan rasa saling percaya antara masyarakat dan pemerintah. Pemerintah tidak dapat membangun negara ini sendirian dan Masyarakat membutuhkan pemerintah untuk mengatur jalannya negara ini. Kerjasama keduanya akan menciptakan negara yang kuat dan berdaulat.(JP-Penulis Adalah Mahasiswa D3 Akuntansi Alih Program PKN STAN)

*Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi penulis bekerja.

Recommended For You